bogortraffic.com, BOGOR – Peta kekuatan properti Indonesia tahun 2025 mengalami pergeseran besar. PT Sentul City Tbk (BKSL), yang selama beberapa tahun terakhir melakukan konsolidasi internal, kini menyeruak masuk ke jajaran 5 teratas pengembang dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia.
Lonjakan valuasi BKSL hingga menyentuh angka Rp22,14 triliun per 24 Desember 2025 bukanlah kebetulan spekulatif. Hal ini didorong oleh aset strategis seluas 3.000 hektar serta kemitraan global kelas berat dengan Genting Group (Malaysia) dan Biotown (China).
Finalisasi Proyek Genting di Sentul
Salah satu motor utama kepercayaan investor adalah kepastian proyek bersama Genting Group. Presiden Direktur Sentul City, Hiramsyah Shambudhy Thaib, mengonfirmasi bahwa proses transaksi lahan seluas 150 hektar di daerah Sumur Batu telah memasuki tahap akhir atau finalisasi Akta Jual Beli (AJB).
”Ke depannya akan dibangun jalur yang menghubungkan area tersebut ke Sentul City dan Jalur Puncak II,” ujar Hiramsyah, dikutip dari laman keterbukaan BEI, Senin (29/12/2025).
Genting Group direncanakan membangun lapangan golf, perumahan, hingga area komersial. Berbeda dengan Genting Malaysia, proyek di Sentul akan dihubungkan langsung ke Jalur Puncak II untuk memecah kemacetan sekaligus menciptakan destinasi wisata baru yang lebih mudah diakses dari Jakarta.
”Saat ini proses transaksi jual-beli atas tanah tersebut antara Perseroan dengan Genting sudah dalam tahap akhir penyelesaian dokumen-dokumen legal. Diperkirakan Genting akan memulai proyeknya di area tersebut setelah proses transaksi sudah selesai,” imbuh Hiramsyah.
Medical City Senilai 10 Miliar Dolar AS
Selain hiburan, BKSL tengah menggarap Biotown, sebuah kota medis masa depan. Di Chengdu, China, proyek serupa membutuhkan investasi senilai 10 miliar dolar AS atau lebih dari Rp150 triliun. Saat ini, BKSL sedang melakukan studi kelayakan dan berkoordinasi dengan kementerian terkait.
Langkah ini penting agar program kerja perseroan selaras dengan dukungan terhadap program pemerintah. BKSL menargetkan pembangunan cluster pertama Biotown dapat dimulai dalam waktu dekat, meskipun pengembangan secara optimal memerlukan waktu sekitar 10 tahun.
Faktor Pendorong BKSL Masuk Top 5 Developer
Keberhasilan BKSL menembus jajaran elit pengembang dengan kapitalisasi pasar Rp22,14 triliun dipengaruhi oleh tiga faktor utama menurut Hiramsyah:
1. Land Bank Masif: Kepemilikan lahan luas yang menempel langsung dengan Jakarta.
2. Sentimen Pasar Global: Validasi dari Genting (Malaysia) dan mitra China meningkatkan kepercayaan pasar modal.
3. Sektor Prioritas: Biotown mencakup Kesehatan, Properti Hijau, Digital, dan Energi Terbarukan.
”Ketiga, Biotown mencakup 4 dari 8 sektor prioritas pemerintah yakni Kesehatan, Properti Hijau, Digital, dan Energi Terbarukan. Rencana pengajuan status Proyek Strategis Nasional (PSN) atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk Biotown menjadi katalisator utama kenaikan harga saham perusahaan,” tuntas Hiramsyah.





