bogortraffic.com, JAKARTA— Langkah progresif demi mengamankan posisi komoditas manufaktur nasional di pasar internasional terus dipacu pemerintah.
Kementerian Perdagangan bersama KBRI London dan brand retail Nobody’s Child menggelar webinar strategis untuk menyosialisasikan Digital Product Passport (DPP).
Melalui edukasi hulu-ke-hilir ini, Kemendag siapkan eksportir TPT Indonesia (Tekstil dan Produk Tekstil) agar mampu beradaptasi dengan sistem perekaman digital asal-usul produk yang mulai diwajibkan secara bertahap oleh Uni Eropa pada 2027.
Langkah mitigasi regulasi makro ini sangat krusial mengingat preferensi pasar global kini bergeser drastis.
Daya saing produk tidak lagi hanya ditentukan oleh perang harga, melainkan wajib memenuhi draf indikator transparansi, keberlanjutan (sustainability), dan ketertelusuran rantai pasok.
”DPP kini bertransformasi menjadi standar internasional baru yang memperkuat aspek transparansi produk fesyen di Inggris dan Uni Eropa. Kami harap instrumen strategis ini memberikan wawasan praktis bagi pelaku usaha lokal agar tidak hanya memenuhi syarat administratif, melainkan mampu meningkatkan daya saing dalam rantai pasok global,” urai Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kemendag, Deden Muhammad Fajar Shidiq, memaparkan bahwa sektor manufaktur tetap menjadi tulang punggung ekspor nasional.
Sepanjang periode Januari–Mei 2026, ekspor manufaktur nasional sukses bertumbuh 5,94 persen.
Rapor perdagangan khusus komoditas TPT dan fesyen mencatat sejumlah capaian impresif:
- Kinerja Ekspor Total: Pengiriman TPT Indonesia mencapai USD 4,79 miliar dengan surplus perdagangan menyentuh USD 962 juta.
- Komoditas Andalan: Didominasi oleh ekspor serat viskosa, pakaian rajut berbahan katun, dan bra.
- Surplus Inggris: Ekspor ke Inggris tumbuh 2,43 persen dengan surplus perdagangan mencapai USD 69 juta, dari total nilai perdagangan bilateral yang menembus USD 1,08 miliar.
Duta Besar RI untuk Inggris, Desra Percaya, bersama Ketua Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, optimistis fondasi industri dalam negeri sangat kuat untuk menyerap regulasi baru ini. Apalagi, industri TPT menyumbang 4,37 persen terhadap PDB nasional.
Ditambah lagi, perundingan Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) kini telah memasuki draf tahap akhir yang diyakini akan memotong hambatan tarif ekspor ke benua biru.
Dari sisi teknis operasional, Pendiri Nobody’s Child, Andrew Xeni, mengingatkan para desainer dan eksportir tanah air untuk segera merapikan draf manajemen data hulu-ke-hilir.
Hal ini dikarenakan seluruh informasi bahan baku, sertifikasi lingkungan, hingga jejak karbon nantinya akan diakses langsung oleh konsumen Eropa lewat kode respons cepat (QR Code) di label pakaian.
”Konsumen fesyen di Inggris kini semakin selektif dan tidak lagi sekadar mengejar tren fast fashion. Mereka membeli nilai etis sebuah produk. Lewat penguatan kapasitas digital dan implementasi IEU-CEPA, kami yakin industri garmen dan serat sintetis Indonesia siap memimpin pasar ekspor yang berkelanjutan,” pungkas manajemen.





