bogortraffic.com, JAKARTA— Strategi transformasi korporasi pelat merah yang selaras dengan arah penataan portofolio Danantara Indonesia terbukti membuahkan rapor keuangan yang cemerlang.
Di tengah dinamika makroekonomi global, BTN catat lompatan laba bersih konsolidasi yang sangat impresif sebesar Rp2,40 triliun pada Semester I/2026, alias melonjak tajam 40,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp1,70 triliun di periode yang sama tahun lalu.
Akselerasi laba operasional hulu-ke-hilir ini ditopang kuat oleh ekspansi kredit yang sehat serta keberhasilan manajemen dalam menekan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) dari 3,3 persen menjadi 2,99 persen per Juni 2026.
”Pencapaian fundamental ini merupakan buah manis dari draf transformasi satu dekade yang kami lakukan secara konsisten. Kami sangat optimistis kinerja bisnis hingga akhir tahun nanti tetap berada on track melanjutkan catatan positif paruh pertama ini,” ungkap Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, dalam paparan publik di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Hingga akhir Juni 2026, total penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi BTN merangkak naik 11,2 persen yoy menembus Rp418,11 triliun. Mesin penggerak utama sektor perumahan masih disokong oleh draf KPR Subsidi yang naik menjadi Rp196,96 triliun.
Menariknya, lini kredit non-perumahan justru mencatatkan draf lompatan eksponensial sebesar 46,1 persen yoy menjadi Rp85,22 triliun.
Kenaikan porsi non-perumahan ini didorong oleh perluasan diversifikasi usaha komersial:
Klaster Korporasi Ritel: Penetrasi pembiayaan pada sektor pendidikan, kesehatan, pemerintahan, hingga industri ritel.
Ekosistem Digital: Pengguna superapps Bale by BTN kini telah menyentuh 4,3 juta pemakai dengan dukungan 344 ribu merchant dan 14 ribu developer.
Guna mempercepat pertumbuhan bisnis secara anorganik, BTN resmi menuntaskan draf akuisisi tahap pertama untuk portofolio kredit pensiun milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk senilai Rp12,6 triliun.
Seluruh aset yang diambil alih dipastikan berstatus lancar (performing loan), sehingga langsung berkontribusi positif mempertebal profitabilitas hulu-ke-hilir tanpa menaikkan draf risiko kredit macet.
Manajemen menjadwalkan draf kelanjutan akuisisi tahap kedua pada kuartal III-2026 mendatang senilai Rp7,34 triliun.
Langkah ini ditargetkan mampu mengeskalasi porsi draf kredit non-perumahan hingga menyentuh 30 persen dari total portofolio dalam lima tahun ke depan.
”Strategi beyond mortgage ini sama sekali tidak berarti kami melupakan core business di sektor KPR dan perumahan rakyat. Langkah komersial ini justru draf pelengkap taktis agar nasabah BTN dapat mengakses layanan keuangan secara terintegrasi sejak masa produktif hingga memasuki masa pensiun mereka kelak,” pungkas Nixon.





