bogortraffic.com, BOGOR— Dampak El Nino dan musim kemarau ekstrem yang mulai menguras sumber mata air warga di wilayah Kabupaten Bogor direspons cepat oleh otoritas kebencanaan daerah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor bergerak taktis di lapangan di mana pihaknya telah menyalurkan air bersih kekeringan untuk menjamin pasokan kebutuhan domestik masyarakat tetap terpenuhi.
Berdasarkan draf data rekapitulasi darurat periode 10 Juni hingga 16 Juli 2026, armada tanki BPBD telah menyisir 83 titik distribusi yang tersebar di 15 kecamatan dan 34 desa.
”Hingga tengah Juli ini, tercatat sebanyak 14.137 Kepala Keluarga atau mencakup sekitar 47.699 jiwa warga Bogor telah menerima manfaat bantuan logistik air. Total draf volume air yang dipasok hulu-ke-hilir dari gudang logistik telah menembus angka 382.000 liter,” urai Katim Kedaruratan BPBD Kabupaten Bogor, Andi Sumardi, Jumat (17/7/2026).
Penyaluran logistik darurat ini menyasar wilayah geografis Bogor Barat, Timur, hingga Utara yang mulai mengalami penurunan draf debit sumur secara drastis.
Pada pergerakan teranyar Kamis kemarin, armada diterjunkan ke delapan desa utama termasuk kawasan Kecamatan Tanjungsari di Desa Pasirtanjung.
Adapun sebaran zonasi draf intervensi krisis air bersih BPBD meliputi:
Bogor Barat & Selatan: Desa Pangaur (Jasinga); Desa Sukaraksa, Sukamaju, Rengasjajar (Cigudeg); Desa Sadeng Kolot, Sadeng II, Wangunjaya (Leuwisadeng); serta Desa Harkatjaya (Sukajaya).
Bogor Tengah & Utara: Desa Cibeuteung Muara (Ciseeng); Desa Leuwibatu (Rumpin); Desa Parakan Muncang, Kalong Liud, Hambaro (Nanggung); serta enam desa di Kecamatan Rancabungur.
Episentrum Timur: Desa Sukawening (Dramaga); Desa Sukajaya (Jonggol); Desa Gunungsari (Citeureup); serta area bukit Desa Bojong Koneng dan Cijayanti (Babakan Madang).
BPBD memastikan operasi penyaluran armada tanki air hidran ini akan terus disiagakan secara berkelanjutan selama periode musim kemarau 2026 berlangsung, terutama memprioritaskan kawasan yang mengalami draf krisis paling kritis.
Guna mempercepat deteksi kelangkaan di lapangan, masyarakat diimbau aktif melapor melalui struktur birokrasi terdekat.
”Bagi warga yang wilayah permukimannya mulai kering, draf mekanisme permohonan bisa diajukan secara kolektif lewat pengurus RT/RW ke pihak pemerintah desa. Dari draf surat resmi pihak desa tersebut, tim reaksi cepat BPBD akan langsung menjadwalkan agenda pengiriman air bersih ke lokasi secara berkala,” pungkas Andi.





