bogortraffic.com, BOGOR – Ekonomi Amerika Serikat (AS) sedang memasuki era baru di mana dominasi fiskal semakin menonjol. Defisit yang persisten dan utang yang terus meningkat menimbulkan kekhawatiran bahwa pembiayaan pemerintah akan mengaburkan kebijakan moneter Federal Reserve.
Chief Investment Office DBS mencermati bahwa perlindungan nilai portofolio saat ini berarti harus berinvestasi pada aset riil. Infrastruktur, properti, komoditas, dan logam mulia secara historis berkinerja lebih baik selama siklus inflasi.
Meskipun menghadapi tantangan deglobalisasi, momentum makro tetap kuat berkat siklus investasi modal pada sektor Kecerdasan Buatan (AI) dan pertahanan. Hyperscalers diperkirakan akan mengucurkan dana sebesar USD 1,4 triliun ke infrastruktur AI antara tahun 2025 dan 2027. Di sisi lain, anggaran pertahanan NATO juga diproyeksikan naik hingga 5% dari PDB pada tahun 2035.
Namun, DBS mengingatkan adanya potensi kerentanan sistemik pada sektor ini. Munculnya circular financing, di mana perusahaan mendanai pertumbuhan satu sama lain, perlu diawasi ketat karena mengingatkan pada praktik vendor financing akhir 1990-an.
Ringkasan Kunci dan Imbauan Taktis
Menjelajahi tahun 2026 menuntut investor untuk mengikuti gelombang AI namun tetap fokus pada kualitas. Berikut adalah empat pendekatan utama yang direkomendasikan:
-
Alokasi Aset: Menjelajahi tahun 2026 menuntut kita untuk mengikuti gelombang AI, memanfaatkan aset riil sebagai pelindung inflasi, mencari nilai di pasar Asia di luar Jepang, serta tetap fokus pada kualitas di pasar saham dan kredit.
-
Saham: Terapkan pendekatan ekuitas yang terfokus pada 2026, dengan preferensi pada pasar Asia di luar Jepang karena valuasi dan pelemahan dolar, pertahanan Eropa terkait pembaharuan persenjataan NATO, serta perusahaan adaptor AI untuk peningkatan efisiensi.
-
Obligasi: Lebih memilih kredit investment-grade dibandingkan high-yield karena spread yang tetap ketat dan risiko resesi yang rendah. High-yield terus menunjukkan rasio risiko-hasil yang kurang menarik.
-
Alternatif: Komoditas didukung oleh gencatan perdagangan dan penurunan suku bunga, sementara emas tetap kuat di tengah risiko fiskal. Kredit privat diturunkan menjadi netral dengan preferensi pada hedge fund.
Fokus pada Kualitas dan Pasar Asia
DBS menilai pasar Asia di luar Jepang tetap menjadi pilihan utama di tengah pelemahan dolar AS. Indeks DXY diperkirakan mencapai level 94,8 pada kuartal keempat 2026, yang secara historis mendorong kinerja saham Asia melalui aliran modal masuk.
“Singkatnya, memasukkan aset riil yang tangible merupakan langkah strategis dibandingkan sekadar langkah defensif,” tulis laporan tersebut.
Pada sektor obligasi, investor disarankan memprioritaskan kredit berkualitas A/BBB dengan tenor 5-7 tahun. Sementara untuk komoditas, logam industri seperti tembaga dan emas tetap berada di posisi kuat karena didorong oleh kekhawatiran fiskal dan keberlanjutan utang AS yang masih membayangi pasar global.






