​Ekonomi RI Diproyeksi Naik 5 Persen, Prediksi Kurs Rupiah Hari Ini Masih Fluktuatif

Prediksi kurs rupiah hari ini

bogortraffic.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bakal bergerak dinamis di zona merah pada akhir sesi perdagangan.

Meski dibayangi sentimen positif domestik, tekanan global membuat mata uang nasional rawan terkoreksi.

Bacaan Lainnya

​Merujuk data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah bertengger di level Rp17.921 per dolar AS pada akhir pekan lalu. Sementara itu, di pasar spot pada Senin (15/6/2026) pagi pukul 09.04 WIB, rupiah sempat dibuka bertenaga di level Rp17.776 per dolar AS, menguat 84 poin (0,47 persen) dari penutupan sebelumnya di angka Rp17.860.

​Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan salah satu katalis positif penguat internal datang dari laporan terbaru Bank Dunia (World Bank) yang merevisi ke atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen untuk tahun 2026.

​”Proyeksi terbaru ini lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi mereka pada April 2026 lalu, yang mematok laju produk domestik bruto (PDB) di level 4,7 persen,” urai Ibrahim dalam riset harian, Senin (15/6/2026).

​Optimisme Bank Dunia tersebut dipicu oleh melesatnya realisasi PDB Indonesia pada kuartal I-2026 yang menyentuh angka 5,6 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini mencatatkan rekor laju pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak pertengahan tahun 2021.

​Sokongan utama roda ekonomi awal tahun ini ditopang oleh:

  • Konsumsi Rumah Tangga: Lonjakan belanja masyarakat selama momen Ramadan dan Idul Fitri.
  • Stimulus Aparatur Negara: Kebijakan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) PNS yang dipercepat.
  • Program Prioritas Pemerintah: Akselerasi penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menggerakkan sektor riil daerah.

​Di sisi lain, pengeluaran pemerintah diproyeksikan tumbuh agresif hingga 8,7 persen, disusul oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (investasi) yang merangkak kokoh di level 6,0 persen pada kuartal pertama.

​Meskipun fondasi dalam negeri dinilai solid, Bank Dunia memberikan rambu-rambu waspada mengenai tantangan keberlanjutan jangka panjang.

Ketergantungan struktural pada sektor konsumsi dinilai berisiko di tengah ruang fiskal APBN yang kian menyempit.

​Kondisi eksternal juga kian menantang akibat pembengkakan alokasi subsidi energi menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak mentah dunia.

Kondisi ini diperparah oleh guncangan sentimen pasar modal imbas pengumuman evaluasi indeks global MSCI.

​”Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.860 hingga Rp17.910 per dolar AS,” pungkas Ibrahim memproyeksikan akhir perdagangan pasar hari ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan