Tembus Pasar Uni Eropa, Indonesia Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Importir Rempah Belanda

Indonesia perkuat akses pasar rempah di Eropa melalui kerja sama strategis dengan Unispices Wazaran BV Belanda.

bogortraffic.com, DEN HAAGPemerintah Indonesia melalui Atase Perdagangan (Atdag) RI Den Haag dan Kedutaan Besar RI di Belanda terus bergerak lincah memperkuat penetrasi produk unggulan nasional di pasar Eropa. Dalam kunjungan kerja ke Unispices Wazaran BV di Hoofdorp pada akhir Februari lalu, pemerintah berupaya memperpendek rantai pasok rempah, hortikultura, hingga hasil perikanan Indonesia agar lebih kompetitif di Benua Biru.

Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri serta mendorong peningkatan investasi dari Belanda ke Indonesia. Atase Perdagangan RI Den Haag, Annisa Hapsari, optimistis bahwa potensi rempah Indonesia akan semakin terbuka lebar seiring dengan perkembangan regulasi perdagangan internasional.

Bacaan Lainnya

“Produk rempah Indonesia memiliki peluang ekspansi yang sangat besar di Eropa. Implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (Indonesia-EU CEPA) nantinya dapat menurunkan tarif dan semakin mempermudah akses pasar. Unispices Wazaran BV di Belanda merupakan mitra potensial, yang tidak hanya berfokus pada rempah, tetapi juga hortikultura olahan dan hasil perikanan ke Eropa,” ujar Annisa Hapsari.

Sari menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan pelaku usaha berjuang sendirian. Komitmen fasilitasi akan diberikan mulai dari proses pengumpulan produk (sourcing) hingga pengembangan kerja sama usaha dengan pembeli di Eropa. Target utamanya adalah memastikan produk Indonesia tidak lagi diekspor dalam bentuk bahan mentah.

“Kami akan terus mengawal mitra usaha di dalam negeri, mulai dari hulu hingga hilir, agar produk kita tidak hanya masuk ke Eropa sebagai bahan mentah, tetapi sebagai produk dengan nilai jual tinggi yang kompetitif,” pungkas Sari.

Saat ini, Unispices Wazaran BV telah aktif mengambil bahan baku rempah dan jamur dari Jawa Tengah serta Jawa Timur, hingga produk tuna unggulan dari Sulawesi Utara. Sari mengingatkan bahwa kepercayaan besar dari pasar internasional ini harus dijaga melalui standarisasi yang ketat.

“Kepercayaan ini harus kita jawab dengan penguatan standardisasi, ketertelusuran (traceability), dan kontrol kualitas (quality control) yang ketat di dalam negeri,” urai Sari.

Managing Director Unispices Wazaran BV, Heykal Balbaid, menyatakan ketertarikannya untuk melakukan pembelian langsung dari petani atau koperasi di Indonesia. Selain itu, pihaknya sedang menjajaki peluang joint venture untuk memperluas pasar di Uni Eropa sekaligus mempertimbangkan peningkatan kegiatan pengolahan langsung di Indonesia.

Namun, Heykal memberikan beberapa catatan agar produk Indonesia bisa lebih mendominasi pasar Eropa.

“Indonesia memiliki kualitas produk dan ketersediaan bahan baku yang bagus. Agar dapat berdaya saing, produk Indonesia perlu menjaga kestabilan pasokan, standardisasi mutu, dan meningkatkan efisiensi logistik. Selain itu, harmonisasi standar dan percepatan proses sertifikasi juga akan sangat mendukung kelancaran ekspor,” ujar Heykal.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2025, total perdagangan Indonesia dengan Belanda mencapai USD 6,58 miliar, di mana ekspor rempah-rempah menyumbang sebesar USD 34,32 juta. Upaya diplomasi perdagangan ini diharapkan dapat melipatgandakan angka tersebut pada tahun-tahun mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan