bogortraffic.com, DENPASAR— Langkah progresif penanganan krisis ekologi di etalase pariwisata nasional resmi dimulai.
Pemerintah meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) fasilitas Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) tahap pertama di Bali.
Proyek strategis bernilai investasi Rp3 triliun (setara 170,4 juta dolar AS) ini diproyeksikan menjadi solusi hulu-hilir bagi keterbatasan lahan TPA.
Inisiatif makro yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Perpres 109/2025 ini berada di bawah kendali PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), sebuah entitas bisnis yang dibentuk oleh Danantara Indonesia.
Selain Bali, proyek serupa disiapkan secara paralel untuk wilayah Kota Bogor dan Kota Bekasi.
”Pembangunan fasilitas PSEL di Bali bukan sekadar mendirikan infrastruktur pembangkit listrik biasa, melainkan membangun ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Kami memastikan sampah residu yang selama ini membebani lingkungan pariwisata diolah secara bertanggung jawab menjadi pasokan energi bersih,” ungkap Chief Executive Officer (CEO) Denera, Fadli Rahman, Jumat (10/7/2026).
Fasilitas PSEL Bali yang berlokasi di kawasan Pedungan, Denpasar Selatan, dirancang memiliki kapasitas olah masif mencapai 1.500 ton sampah per hari (setara 500 truk logistik).
Proyek yang ditargetkan mulai beroperasi bertahap pada semester pertama 2028 ini mengadopsi teknologi Moving Grate Incinerator.
Sistem reduksi emisi ini mengacu pada regulasi ketat Uni Eropa (European Industrial Emissions Directive/EU IED) melalui mekanisme teknis:
Sistem Pembakaran Suhu Tinggi: Sampah campuran dikeringkan selama 5–7 hari untuk memangkas kadar air, lalu dibakar di atas suhu 850°C guna mengeliminasi senyawa berbahaya.
Sirkulasi ‘Zero Waste’: Uap bertekanan tinggi hasil pembakaran akan memutar turbin listrik PLN, air lindi diolah menjadi air bersih, dan sisa abu pembakaran (bottom ash) dialokasikan sebagai bahan baku batako bangunan.
Melalui pendekatan teknologi mutakhir ini, tingkat emisi karbon per ton sampah diklaim mampu ditekan drastis hingga 80 persen jika dibandingkan dengan metode penumpukan konvensional di TPA.
Denera memproyeksikan infrastruktur PSEL ini mampu menyerap sekitar 44 persen dari total volume sampah yang diproduksi di Pulau Dewata setiap harinya. Selain dampak lingkungan, proyek infrastruktur hijau ini turut membuka keran ekonomi daerah dengan menyerap 1.200 lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal Bali.
Dari sisi ketahanan energi nasional, pasokan listrik yang dihasilkan kelak mampu memenuhi kebutuhan daya bagi 100.000 rumah tangga.
Penyerapan listrik tersebut dijamin penuh oleh PT PLN (Persero) sebagai pembeli tunggal lewat Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL/PPA) jangka panjang bermotif tarif USD 0,20/kWh, sebuah skema bisnis yang membuat investasi makro ini dinilai sangat bankable bagi mitra internasional.





