Tak Sedingin Dulu, Pakar IPB Bongkar Penyebab Cuaca Bogor Makin Panas

Tugu Kujang, Bogor Jawa Barat.

bogortraffic.com, BOGOR— Image Bogor sebagai “Kota Hujan” yang berudara sejuk kini perlahan mulai bergeser. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat setempat mengeluhkan kondisi suhu udara siang hari yang terasa kian terik hingga menyentuh kisaran 32-34 derajat Celsius, dibarengi dengan intensitas curah hujan yang makin jarang.

​Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Givo Alsepan, menjelaskan bahwa rentetan perubahan iklim mikro ini dipicu oleh akumulasi faktor global dan lokal yang saling berkelindan.

Bacaan Lainnya

​Berdasarkan kajian klimatologi, berikut adalah 3 penyebab cuaca Bogor makin panas dan kehilangan kesejukannya:

1. Dampak Fenomena El Nino 2026

​Faktor pemicu jangka pendek yang saat ini sedang melanda adalah fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) di Samudra Pasifik tropis. Fase El Nino membuat suhu permukaan laut bergeser, sehingga pasokan uap air di atas Indonesia menyusut drastis.

​”El Nino diprediksi akan berlangsung hingga akhir tahun 2026. Pergeseran massa awan menuju Pasifik menyebabkan minimnya tutupan awan di langit Bogor. Alhasil, radiasi sinar matahari langsung menghantam permukaan bumi tanpa penghalang dan memicu cuaca ekstrem,” jelas Givo, melansir laman resmi IPB, Selasa (7/7/2026).

2. Tren Pemanasan Global Sejak Tahun 1990

​Di luar anomali cuaca tahunan, data klimatologi menunjukkan suhu rata-rata tahunan di Bogor (yang secara normal berada di angka 25,5 hingga 27 derajat Celsius) terus merangkak naik secara konsisten sejak tahun 1990. Grafik kenaikan ini berjalan linear dengan pemanasan global di tingkat dunia akibat tingginya emisi gas rumah kaca.

3. Efek ‘Urban Heat Island’ Akibat Urbanisasi Masif

​Penyebab lokal yang tidak kalah masif adalah perubahan bentang alam. Pesatnya konversi lahan hijau menjadi kawasan ruko, beton, dan aspal jalanan memicu fenomena Urban Heat Island (UHI) atau pulau panas perkotaan.

Ekspansi Tercepat: Terjadi pada periode 1997–2007.

Lonjakan Selisih Suhu: Berdasarkan studi literatur, perbedaan suhu antara kawasan urban dan pinggiran (suburban) di Bogor melonjak tajam dari 1,36 derajat Celsius pada tahun 1990 menjadi hampir 2,26 derajat Celsius pada tahun 2017.

​Pakar IPB memperingatkan, jika blueprint pembangunan infrastruktur daerah di wilayah Bogor tidak segera mengedepankan proteksi ruang terbuka hijau (RTH) secara ketat, maka tren kenaikan suhu lokal ini dipastikan akan terus memburuk di masa depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan