bogortraffic.com, JAKARTA— Langkah taktis penyegaran tata kelola hulu di tubuh BUMN perkebunan resmi bergulir. Direktur Utama PTPN I (Persero) yang baru sepekan menjabat, Dr. Abdul Rivai Ras, menegaskan komitmennya untuk mempercepat laju pertumbuhan korporasi melalui strategi yang lebih progresif, terukur, dan berbasis teknologi digital guna menembus pasar dunia.
Rivai menilai industri agro (farming) memiliki posisi yang amat strategis sebagai penyedia utama bahan baku industri manufaktur (main course) sekaligus penyerap tenaga kerja padat karya yang sangat luas.
“Industri perkebunan tidak akan mati selagi masih ada kehidupan. Mengelola PTPN I hari ini bukan sekadar mengelola kebun atau mengejar target produksi hulu, melainkan tanggung jawab membangun korporasi negara yang kompetitif, adaptif, serta menciptakan nilai tambah (multiplier effect) ekonomi sosial bagi masyarakat,” ujar Dirut PTPN I Abdul Rivai Ras lima pilar transformasi di Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Bedah Lima Pilar Strategis Menuju Kelas Dunia
Guna memitigasi volatilitas harga komoditas global, dampak perubahan iklim, serta pemenuhan standar Environmental, Social, and Governance (ESG), alumnus Universitas Indonesia (UI) tahun 2010 ini menetapkan lima fondasi mutlak:
1. Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG): Memastikan seluruh ekosistem proses bisnis hulu-hilir berjalan transparan, akuntabel, profesional, dan patuh regulasi demi menjaga kepercayaan pemangku kepentingan.
2. Penguatan Manajemen Risiko: Membentengi aset negara melalui restrukturisasi organisasi dengan mengintegrasikan Direktorat Keuangan dan Manajemen Risiko demi menghadapi ketidakpastian pasar global.
3. Digitalisasi Manajemen: Mengubah budaya kerja konvensional menuju efisiensi tinggi lewat adopsi teknologi smart farming dan sistem keputusan berbasis data (data-driven).
4. Optimalisasi Aset Negara: Memastikan seluruh aset lahan dan infrastruktur menghasilkan produktivitas ekonomi maksimal melalui skema kemitraan inklusif dengan warga sekitar.
5. Penguatan Sinergi Kelembagaan: Mempererat kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah, regulator, DPR, aparat penegak hukum, akademisi, hingga pelaku usaha.
Rivai menambahkan, percepatan transformasi ini krusial untuk menjaring dampak kesejahteraan yang meluas, mengingat sifat industri agro yang menyerap tenaga kerja dalam rantai ekonomi secara masif di berbagai daerah terpencil Indonesia.
”Transformasi berskala makro ini bukanlah pekerjaan satu orang. Ini adalah gerakan bersama untuk membangun PTPN I menjadi raksasa agribisnis nasional yang mampu berdiri sejajar dengan perusahaan-perusahaan perkebunan terbaik di dunia. Dengan tata kelola yang kuat, inovasi digital, serta kolaborasi yang solid, kami optimistis memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia,” pungkasnya.





