bogortraffic.com, BOGOR– Pemerintah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap kapal pengangkut narkoba yang dioperasikan oleh geng kriminal Tren de Aragua asal Venezuela di perairan internasional Karibia.
Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa 11 orang tewas dalam operasi tersebut dan tidak ada korban dari pihak militer AS.
Trump menyebut serangan ini sebagai bagian dari perang melawan kartel narkoba yang mengancam keamanan nasional AS. “Serangan ini terjadi saat para teroris narkoba berada di laut menuju Amerika Serikat,” tulis Trump di Truth Social.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi bahwa kapal tersebut dioperasikan oleh “narco-terorist.”
Pemerintah Venezuela langsung mengecam keras serangan tersebut. Presiden Nicolas Maduro menuduh Washington menggunakan isu narkoba untuk melemahkan rezimnya.
Ia mengutip laporan PBB yang menyebut hanya 5 persen kokain Kolombia dialirkan melalui Venezuela.
Maduro juga memperingatkan akan mendeklarasikan “republik bersenjata” jika negaranya diserang, dan memerintahkan pengerahan pasukan di sepanjang garis pantai serta perbatasan Kolombia.
Ketegangan militer semakin meningkat setelah AS menempatkan armada besar di sekitar Venezuela, termasuk delapan kapal perang, kapal selam nuklir, dan lebih dari 4.000 marinir.
Sebagai respons, Venezuela meningkatkan patroli laut dan udara intensif serta mengerahkan 15.000 tentara di perbatasan.
Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López menegaskan, “Kami akan bertarung jika kalian menginjakkan kaki di Venezuela.”
Sejumlah pemimpin Amerika Latin, termasuk Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Kolombia Gustavo Petro, mengkritik langkah AS dan menyerukan solusi damai. Sementara itu, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan politik dengan menawarkan hadiah sebesar US$50 juta bagi siapa pun yang memberikan informasi untuk menangkap Maduro terkait dugaan perdagangan narkoba.
Pakar keamanan internasional memperingatkan bahwa konflik AS–Venezuela berisiko memicu instabilitas di kawasan Karibia. Mobilisasi militer kedua pihak dinilai bisa menyeret kekuatan global lain ke dalam krisis.





