bogortraffic.com, BOGOR – Inovasi rumah pengering karya dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) University dimanfaatkan sejumlah Polres di Jawa Barat untuk memperkuat pelaksanaan program ketahanan pangan jagung di Subang dan Indramayu.
Rumah pengering atau solar dome tersebut dirancang oleh dosen Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Dr Tjahja Muhandri, sebagai penyempurnaan model pengering konvensional yang selama ini dinilai kurang efektif.
“Desain rumah pengering ini dibuat dengan menambahkan sistem aliran udara yang baik serta alat pemanas tipe indirect heat transfer sederhana,” katanya dalam keterangan di Kabupaten Bogor, Jumat.
Teknologi Pemanas Tidak Langsung Jaga Kualitas Produk
Tjahja menjelaskan, sistem pemanas tidak langsung memungkinkan panas masuk ke ruang pengering tanpa membawa asap. Dengan demikian, kualitas bahan tetap terjaga meskipun sumber panas menggunakan berbagai jenis bahan bakar.
Menurut dia, banyak rumah pengering yang dibangun di masyarakat hanya memperhatikan suhu, tanpa memperhitungkan sirkulasi udara.
Kondisi tersebut menyebabkan proses pengeringan berlangsung lama dan berisiko menimbulkan jamur pada produk.
Sirkulasi Udara Jadi Kunci Proses Pengeringan
Secara ilmiah, proses pengeringan dipengaruhi oleh perbedaan tekanan uap air antara bahan dan lingkungan. Tanpa aliran udara yang memadai, uap air akan terperangkap di dalam ruang pengering sehingga menghambat pelepasan kadar air dari bahan.
Inovasi rumah pengering IPB ini dirancang untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan sistem sirkulasi udara yang lebih optimal.
Kapasitas Hingga 1 Ton, Bisa untuk Beragam Komoditas
Rumah pengering inovasi IPB tersebut memiliki kapasitas efektif sekitar 500 hingga 1.000 kilogram. Teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai komoditas, seperti jagung, padi, kopi, dan kedelai, serta bahan irisan seperti jahe, kunyit, singkong, dan talas.
Selain itu, alat ini juga sesuai untuk komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang, serta produk berbentuk granula dan tepung.
Di Subang dan Indramayu, rumah pengering ini telah dimanfaatkan untuk mengeringkan biji jagung dalam rangka mendukung program ketahanan pangan Polres setempat.
Biaya Fleksibel Sesuai Material
Dari sisi biaya, pembangunan rumah pengering dapat disesuaikan dengan material yang tersedia. Penggunaan bambu dan plastik dinilai lebih terjangkau, sedangkan baja ringan atau material berkualitas tinggi membutuhkan biaya yang lebih besar.
Tjahja berharap inovasi ini dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Menurut dia, riset perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan mendukung program strategis nasional.






