Filosofi “Touch This Earth Lightly”: Visi Arsitek Peraih Nobel untuk Masa Depan Pembangunan ASEAN

Steel Architectural Awards ASEAN 2026

bogortraffic.com, JAKARTA – Di tengah percepatan pembangunan infrastruktur Asia Tenggara yang kian agresif mengejar pertumbuhan ekonomi, muncul pertanyaan mendasar: Bagaimana kita membangun tanpa merusak? Bagaimana arsitektur modern tetap menghormati identitas lokal sekaligus tangguh menghadapi krisis iklim?

Jawabannya mungkin terletak pada sebuah filosofi sederhana: “Touch this earth lightly” atau sentuhlah bumi ini dengan lembut.

Bacaan Lainnya

Prinsip ini diperkenalkan oleh Glenn Murcutt, satu-satunya arsitek asal Australia peraih Pritzker Architecture Prize, penghargaan tertinggi dunia arsitektur. Filosofi ini menjadi kompas bagi pergerakan arsitektur berkelanjutan di kawasan ASEAN. Murcutt menegaskan bahwa bangunan yang baik bukan yang mendominasi alam, melainkan yang beradaptasi dengannya, menghormati budaya lokal, dan meninggalkan jejak karbon seminim mungkin.

Dilema Pembangunan ASEAN: Ambisi dan Keberlanjutan

Asia Tenggara saat ini berada di persimpangan kritis. Sebagai kawasan dengan urbanisasi tercepat di dunia, wilayah ini juga paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kondisi ini menuntut pendekatan arsitektur yang tidak lagi mengandalkan pola lama build–demolish–rebuild.

Dalam simposium bertajuk “Shaping Resilient Futures: Heritage and Modernity in Steel Architectural Design,” sekitar 190 pakar dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia berkumpul untuk merumuskan masa depan arsitektur kawasan.

Arsitek senior Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ar. Budi Pradono, menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam forum tersebut.

“Kemitraan ini menegaskan vitalitas aliansi regional kita dan akan memotivasi komunitas arsitek ASEAN menuju pencapaian yang lebih berani dan berdampak,” ujarnya.

Sementara itu, Ar. Steve Woodland dari COX Architecture Australia membahas bagaimana teknologi material modern seperti baja berlapis dapat menjawab tantangan desain yang semakin kompleks di masa depan.

Baja sebagai Medium Harmonisasi Alam

Salah satu gagasan menarik adalah pergeseran paradigma terhadap baja. Tidak lagi hanya simbol modernitas yang monoton, baja kini dipandang sebagai medium untuk mencapai harmonisasi antara manusia dan alam.

Jenny Margiano, Country President PT NS BlueScope Indonesia, menjelaskan keunggulan baja modern dalam konteks ekonomi sirkular.

“Material ini bisa didaur ulang, fleksibel untuk berbagai desain, dan tangguh menghadapi kondisi iklim ekstrem. Kualitas tersebut sangat dibutuhkan ASEAN saat ini,” jelas Jenny.

Momentum Steel Architectural Awards ASEAN 2026

Forum ini juga menandai peluncuran Steel Architectural Awards ASEAN 2026, kompetisi karya inovatif yang mencakup kategori hunian, komersial, hingga infrastruktur. Jenny menyatakan antusiasmenya terhadap program kolaboratif ini.

“Penghargaan ini mengakui pencapaian bagi para arsitek yang telah merekomendasikan produk kami di balik beragam struktur inovatif di wilayah ASEAN, sekaligus memperdalam kolaborasi kami dengan komunitas desain Australia untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan pertumbuhan profesional di seluruh wilayah,” ujarnya.

Dewan juri yang terdiri dari ahli terkemuka seperti Ar. Firman Setia Herwanto (IAI) dan Ar. Asae Sukhyanga (ASA) akan menilai sejauh mana sebuah karya berhasil mewujudkan visi “resilient futures” yang tangguh dan bertanggung jawab terhadap bumi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan