​Atasi 3 Krisis Bumi, KLH Bawa Konsep ‘Tobat Ekologis’

KLH/BPLH gagas Tobat Ekologis dalam Pertemuan Pejabat Senior Lingkungan Hidup Asia Tenggara ke-37 untuk atasi krisis bumi.

bogortraffic.com, BANDUNG — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendesak negara-negara Asia Tenggara agar kebijakan lingkungan tidak sekadar berakhir di atas kertas.

Penegasan ini disampaikan pada KLH BPLH Pertemuan Lingkungan Asia Tenggara ke-37 yang berlangsung di Bandung, 10–13 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

​Pertemuan strategis ini difokuskan untuk memperkuat implementasi Rencana Strategis Lingkungan Asia Tenggara 2026–2035 guna menghadapi tiga krisis utama bumi: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.

​Ketua Delegasi Indonesia sekaligus Staf Ahli Menteri KLH/BPLH, Erik Teguh Primiantoro, mengusulkan konsep “Tobat Ekologis” (Ecological Conversion) sebagai landasan etis penerapan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan (Sustainable Consumption and Production/SCP).

​”Konsep ini mencerminkan perubahan nilai dan perilaku menuju praktik produksi, konsumsi, serta pengelolaan sumber daya alam yang lebih bertanggung jawab. Prinsip ‘Tobat Ekologis’ ini perlu diintegrasikan dengan kerangka ESG dan pelaporan keberlanjutan,” tegas Erik Teguh.

​Rantai Implementasi Terpadu dan Solusi 3 Krisis Bumi

​Guna memastikan kebijakan regional dapat dieksekusi secara terukur di tingkat akar rumput, Indonesia menawarkan model rantai implementasi terpadu yang menghubungkan sains, data geospasial, tata ruang, hingga pembiayaan hijau.

​Indonesia memaparkan tiga langkah komprehensif penanganan krisis global:

  • Tata Kelola Keanekaragaman Hayati: Penguatan pusat biodiversitas kawasan, Penilaian Daftar Merah Regional, dan pendanaan ekosistem.
  • Ketahanan Iklim: Pemanfaatan Penilaian Kerentanan-Risiko-Adaptasi berbasis data geospasial untuk mitigasi bencana.
  • Pengendalian Pencemaran Plastik: Menjadi jembatan diplomasi Traktat Polusi Plastik Global melalui pendekatan siklus hidup penuh (full-life cycle).

​Inisiatif Indonesia mendapat sambutan positif dari Ketua Pertemuan Pejabat Senior Lingkungan Hidup asal Filipina, Atty Jonas R. Leones, yang menilai kerangka kerja strategis ini sangat krusial dalam menjawab tantangan regional pasca-2025.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan