Dongkrak Panen 70 Persen, BRIN Temukan Formula Aplikasi Pupuk Silika Bawang Merah

Pupuk Silika Tingkatkan Produksi Bawang Merah TSS

bogortraffic.com, YOGYAKARTA— Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menelurkan inovasi mutakhir untuk memotong ketergantungan petani terhadap benih umbi tradisional.

Melalui riset terbaru, aplikasi pupuk silika bawang merah BRIN terbukti mampu mendongkrak produktivitas tanaman asal benih botani (True Shallot Seed/TSS) secara signifikan hingga 70 persen.

Bacaan Lainnya

​Riset ini merupakan hasil kolaborasi internasional antara tim peneliti BRIN, UPN Veteran Yogyakarta, dan The University of Queensland yang telah diterbitkan pada jurnal internasional bereputasi, Chilean Journal of Agricultural Research.

​”Kebutuhan bawang merah nasional terus melonjak, namun petani masih bergantung pada umbi yang boros ruang logistik. TSS menawarkan solusi karena hemat jumlah benih dan berdaya simpan lama. Kini dengan sentuhan pupuk silika, pertumbuhan vegetatifnya bisa kita pacu optimal,” jelas Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) BRIN, Arlyna Budi Pustika, Senin (29/6/2026).

​Dalam pengujian komparatif terhadap tiga varietas TSS—Sanren, Lokananta, dan Merdeka—dosis silika sebesar 10 mL per liter memberikan efek paling optimal pada varietas Sanren.

​Injeksi nutrisi mikro ini memicu transformasi anatomis yang menguntungkan bagi tanaman:

– ​Lapisan Kutikula Daun: Menebal hingga 121%, membuat daun lebih kokoh menghadapi gempuran hama patogen dan cuaca ekstrem.

– Kandungan Silika Daun: Meningkat hingga 5,39%, memacu efisiensi fotosintesis maksimal.

– ​Struktur Umbi: Jumlah anakan melonjak dari 3,38 menjadi 4,94 per tanaman, dengan diameter umbi yang melebar menjadi 2,86 sentimeter.

​Selain memicu lonjakan volume tonase panen, penggunaan unsur silika (Si) ternyata membawa dampak positif yang mengejutkan terhadap aspek keamanan pangan.

​Peneliti PRTP BRIN, Kristamtini, memaparkan bahwa tingginya penyerapan senyawa silika berbanding lurus dengan penurunan akumulasi zat kimia berbahaya pada jaringan daun tanaman.

​”Penyerapan silika yang tinggi berkaitan erat dengan menurunnya kandungan logam berat beracun seperti timbal (Pb), tembaga (Cu), dan kadmium (Cd) pada daun. Temuan ini membuka babak baru bagi pertanian sehat yang bebas dari kontaminasi zat berbahaya,” urai Kristamtini.

​Melalui kepastian formula pemupukan ini, BRIN berharap para petani lokal mulai bermigrasi ke teknologi TSS guna menekan biaya operasional hulu sekaligus memperkuat stabilitas pasokan bawang merah di pasar domestik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan