bogortraffic.com, BOGOR – Maraknya aksi dan pernyataan sikap petani di berbagai daerah yang menyuarakan kekecewaan atas pemberitaan dan infografis polemik beras busuk, serta memberikan dukungan moral kepada Kementerian Pertanian (Kementan), mencerminkan tingginya kepedulian petani terhadap martabat sektor pertanian Indonesia.
Menanggapi situasi tersebut, yang turut memunculkan wacana demo tandingan, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch. Arief Cahyono, menghimbau seluruh petani dan pegawai untuk tidak melakukan demo atau aksi tandingan agar suasana tetap kondusif.
Arief menegaskan bahwa sengketa antara Kementan dan Tempo telah resmi masuk ke ranah pengadilan, sehingga seluruh proses penyelesaiannya harus diserahkan kepada mekanisme hukum yang berlaku.
“Permasalahan dengan Tempo sudah masuk pengadilan, jadi tidak ada alasan bagi petani maupun pegawai membuat demo tandingan. Kita ingin suasana tetap kondusif dan semua pihak bersatu menjaga martabat petani Indonesia. Tulisan dan infografis “Poles-Poles Beras Busuk” memang menyakiti 160 juta petani, tetapi mari kita percayakan semuanya pada proses hukum yang sedang berjalan,” ujar Arief Cahyono.
Arief menjelaskan bahwa prioritas Kementan saat ini adalah menjaga stabilitas dan kelancaran produksi pangan nasional.
Ia mengapresiasi kerja keras petani yang terbukti memberikan hasil luar biasa, di mana data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi beras nasional Januari–Desember 2025 mencapai 34,77 juta ton, atau surplus 4,1 juta ton dibandingkan tahun 2024.
Mengenai gugatan yang diajukan, Arief menegaskan bahwa gugatan kerugian materiil Rp 19.173.000 dan kerugian imateriil Rp 200 miliar yang keseluruhannya disetor ke kas negara, bukan untuk membungkam pers, melainkan untuk memperjuangkan kebenaran sesuai fakta, memulihkan martabat petani, dan menjaga integritas informasi publik.
Secara terpisah, dalam amanat Hari Pahlawan di Kantor Pusat Kementan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa perjuangan seluruh jajaran Kementan adalah perjuangan untuk bangsa, bukan untuk pribadi.
“Jangan bela pribadi saya. Bela Kementerian Pertanian dan petani Indonesia. Banyak yang tidak senang kalau Indonesia berdaulat pangan, tetapi kita harus sabar dan terus bekerja. Semua ini demi Merah Putih,” ujar Mentan Amran.
Mentan Amran menyebut para petani, penyuluh, dan pegawai lapangan sebagai pahlawan masa kini yang perjuangannya diwujudkan melalui kerja keras untuk memastikan pangan tersedia.
Ia juga memaparkan berbagai capaian Kementan dalam satu tahun terakhir, termasuk peningkatan laporan keuangan menjadi WTP dan apresiasi KPK terhadap integritas Kementan.
“Insya Allah, Indonesia berada di ambang deklarasi swasembada pangan. Ini bukan keberhasilan saya, tetapi keberhasilan Anda semua. Anda adalah pahlawan-pahlawan pangan Indonesia,” pungkasnya.





