bogortraffic.com, BENER MERIAH— Langkah strategis pemulihan konektivitas trans-Aceh resmi bergulir.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah mematangkan proyek infrastruktur hulu melalui rencana di mana Kementerian PU bangun jembatan shortcut Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah. Jembatan baru ini diproyeksikan menjadi solusi permanen penopang jalur logistik menuju Dataran Tinggi Gayo.
Langkah mitigasi makro ini diambil lantaran lokasi jembatan lama (existing) secara kajian teknis geologi dinilai tidak layak lagi dikembangkan akibat kerawanan hidrometeorologi yang tinggi.
”Pemerintah tidak akan membangun infrastruktur permanen di titik lokasi lama karena secara teknis sangat berisiko. Jembatan eksisting yang ada saat ini kami perkuat strukturnya agar aman melintas terbatas, sementara solusi jangka panjangnya dialihkan lewat pembangunan jembatan shortcut di trase baru,” urai Menteri PU, Dody Hanggodo, Sabtu (11/7/2026).
Menteri Dody memaparkan bahwa lewat manajemen penataan terpadu ini, masyarakat nantinya akan memiliki tiga alternatif jalur distribusi hulu ke hilir.
Selain jembatan lama yang diperkuat, Kementerian PU juga melebarkan rute alternatif via Werlah, Kecamatan Pintu Rime Gayo, dari lebar 4 meter menjadi 6 meter lengkap dengan 2 jembatan penunjang.
Kehadiran jembatan shortcut baru pada trase aman tersebut diklaim membawa dampak ekonomi masif, salah satunya memotong waktu tempuh rute Bireuen–Takengon hingga kisaran 10 menit lebih cepat.
Secara spesifikasi teknis hulu, jembatan shortcut Enang-Enang dirancang khusus untuk melewati lembah lebar tanpa memerlukan banyak pilar di tengah sungai guna menghindari gerusan banjir bandang:
Dimensi Struktur: Memiliki panjang bentang sekitar 380 meter dan lebar jalan 12 meter.
Pondasi & Pilar: Ditopang dua pilar utama setinggi 30 meter dan 55 meter, dua abutment 7 meter, serta pondasi bored pile berdiameter 1,5 meter.
Kapasitas Muat: Mampu melayani kendaraan angkutan barang dengan beban maksimum hingga 30 ton.
Kemampuan daya dukung tonase besar ini sangat krusial demi menjaga stabilitas distribusi hasil komoditas perkebunan utama dari wilayah Gayo menuju Pelabuhan Krueng Geukueh maupun area pesisir Aceh.
Saat ini, Kementerian PU tengah menyelesaikan tahapan basic design serta persiapan tender konstruksi. Proyek fisik massal ini ditargetkan berjalan bertahap sepanjang periode tahun 2026 hingga 2028 dengan fokus mutu kualitas tahan bencana.





