bogortraffic.com, JAKARTA— Langkah taktis menuju digitalisasi energi hijau berskala makro resmi diakselerasi. Emiten energi terbarukan pelat merah, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO), memperkokoh posisinya sebagai world leading geothermal producer di tingkat global.
Dalam ajang G-Bionic Mid-Year Achievement 2026, Pertamina Geothermal Energy luncurkan ekosistem G-Bionic yang mengintegrasikan lima lini produk teknologi mutakhir demi memacu target optimalisasi aset panas bumi sebesar 3 gigawatt (GW).
Gebrakan transformasi digital terintegrasi end-to-end yang diinisiasi sejak 2023 ini bertumpu pada tiga pilar utama: People, Process, dan Technology, sekaligus menjadi jawaban atas tingginya risiko eksplorasi dan besarnya biaya pengembangan proyek panas bumi nasional.
”Saat ini, korporasi sedang bergerak cepat dari tahap inisiasi menuju tingkat kematangan digital yang advanced. Kelima produk ekosistem digital ini disokong penuh oleh infrastruktur cybersecurity yang kuat. Ini bukan sekadar proyek sampingan, melainkan cara baru kita bekerja hari ini dan di masa depan untuk terus berinovasi lebih cepat serta bekerja lebih efisien,” ungkap Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, dalam keterangannya, Sabtu (11/7/2026).
Mengenal 5 Inovasi Digital Hulu-Hilir G-Bionic
Ekosistem teknologi baru yang diperkenalkan ke publik ini dirancang saling bertukar data secara real-time guna menekan risiko biaya operasional dan memperkuat tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance):
- 1. PIMS Historian: Sistem monitoring operasional pabrik secara real-time.
- 2. GENIUS: Asisten kerja Enterprise berbasis kecerdasan buatan (AI) mandiri yang terintegrasi dengan Sistem Tata Kerja perusahaan secara aman.
- 3. G-COMPASS: Sistem manajemen kontrak digital guna memangkas lead time tinjauan dokumen di atas 60 persen.
- 4. PEDAS: Dasbor pemantauan eksekusi proyek lapangan secara real-time.
- 5. G-ENERGYZER: Platform asesmen kompetensi terpusat untuk kesiapan SDM.
Penerapan teknologi pintar ini terbukti langsung memberikan kontribusi finansial yang nyata bagi performa korporasi.
Melalui analisis data presisi dari PIMS Historian, PGE sukses mengoptimalkan kinerja komponen hot well pump (HWP) di PLTP Ulubelu.
Optimalisasi tersebut mendongkrak output produksi pembangkit hingga lebih dari 2 megawatt (MW), yang setara dengan penciptaan nilai (value creation) aktual mencapai US$312.000 atau menembus Rp5,15 miliar.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan keberhasilan riset dan implementasi ini menjadi bukti kokohnya budaya kerja berbasis data yang dirintis internal perusahaan selama tiga tahun terakhir.
“Apa yang kita capai hari ini membuktikan bahwa perjalanan membangun budaya kerja berbasis data benar-benar menciptakan efisiensi yang terukur di lapangan. Inisiatif digital PGE bahkan telah menarik perhatian beberapa pihak global untuk direplikasi. Ini komitmen nyata kami untuk memimpin inovasi digital yang siap mengawal transisi energi dan mendukung ketahanan energi nasional,” pungkas Ahmad Yani.





