Tekan Angka TBC, Dinkes Kota Bogor Gelar Skrining Massal di 20 Titik

Kegiatan Active Case Finding (ACF) yang diselenggarakan Dinkes Kota Bogor. (Foto: Humas Pemkot Bogor)

bogortraffic.com, BOGOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor menggelar program Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis (TBC) di 20 titik lokasi untuk mendeteksi kasus baru dan menekan penyebaran penyakit ini. Kegiatan dimulai pada Sabtu (1/2/2025) dan melibatkan berbagai pihak dalam upaya eliminasi TBC di Kota Bogor.

Langkah ini diambil menyusul tingginya angka kasus TBC di Kota Bogor yang mencapai 9.947 kasus atau 119%. Jumlah tersebut belum diimbangi dengan tingginya tingkat pemeriksaan terhadap kontak serumah maupun kontak erat pasien TBC, yang berisiko tinggi tertular.

Bacaan Lainnya

Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Bogor, Hanafi, menegaskan bahwa program ini didukung oleh perangkat daerah dan lintas sektor untuk memastikan mobilisasi peserta serta menjaga keamanan selama pelaksanaan skrining.

“TBC bukan hanya masalah hari ini, tetapi telah menjadi stigma yang luar biasa di masyarakat. Untuk itu, diperlukan peran maksimal dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat,” ujar Hanafi saat membuka kegiatan ACF di Lapangan Basket GOR Pajajaran, Tanah Sareal.

Ia juga menekankan bahwa eliminasi TBC adalah salah satu prioritas utama pemerintah dalam sektor kesehatan, mengingat tingginya angka kasus yang masih terjadi. Namun, upaya ini membutuhkan kolaborasi yang lebih luas agar hasilnya optimal.

Menurut Kepala Dinkes Kota Bogor, Sri Nowo Retno, TBC masih menjadi penyakit menular paling mematikan kedua di dunia. Bahkan, Provinsi Jawa Barat tercatat sebagai wilayah dengan penemuan kasus TBC tertinggi di Indonesia.

Untuk itu, program ACF ini akan berfokus pada:
– Skrining gejala TBC
– Edukasi tentang dampak dan pencegahan TBC
– Pemberian pengobatan hingga sembuh melalui gerakan TOSS TBC (Temukan, Obati, Sampai Sembuh)

“Penting bagi masyarakat untuk sadar akan TBC. Jika mengalami gejala, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” imbau Retno.

Selain itu, tenaga medis dan masyarakat diharapkan aktif melaporkan individu dengan gejala TBC agar dapat segera ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih lanjut.

Skrining dalam program ACF ini menargetkan populasi dengan risiko tinggi tertular TBC, termasuk:

  • Kontak serumah dan kontak erat pasien TBC
  • ODHIV (Orang dengan HIV/AIDS)
  • Penderita diabetes melitus
  • Orang dengan gizi buruk
  • Perokok aktif
  • Penderita kusta yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC

Strategi lain yang digunakan adalah kombinasi penemuan dan pengobatan aktif dengan upaya pencegahan melalui pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi mereka yang terdeteksi mengalami infeksi laten TBC (ILTB).

Menurut Retno, tujuan utama dari program ACF ini adalah:
– Meningkatkan deteksi dini kasus TBC
– Menekan keterlambatan diagnosis
– Mengurangi sumber infeksi untuk menekan penularan
– Menemukan kasus ILTB agar segera mendapat pengobatan pencegahan

“Kami berharap melalui kegiatan ini, jumlah terduga dan kasus TBC dapat ditemukan lebih banyak, sehingga rantai penularan dapat diputus dan eliminasi TBC di Kota Bogor bisa segera tercapai,” pungkas Retno.

Dinkes Kota Bogor mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam program ini dengan aktif melakukan skrining, melaporkan kasus terduga TBC, serta mendukung pengobatan hingga sembuh guna menciptakan Kota Bogor yang lebih sehat dan bebas dari TBC.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan