Meneladani Rasulullah, Inilah 4 Prinsip Dasar Mendidik Anak Sejak Dini

Ilustrasi Mendidik Anak.

bogortraffic.com, BOGOR– Mendidik anak bukan hanya soal menyekolahkan atau memenuhi kebutuhan fisiknya. Lebih dari itu, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa pendidikan utama dimulai dari penanaman nilai-nilai dasar yang membentuk karakter dan akhlak anak.

Merujuk pada berbagai hadits sahih, ada empat prinsip utama yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dalam mendidik anak sejak usia dini: tauhid, tata krama, kejujuran, dan kebiasaan beribadah wajib.

Bacaan Lainnya

1. Memulai dengan Tauhid: “Laa Ilaha Illa Allah”

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ‌اِفْتَحُوْا ‌عَلَى صِبْيَانِكُمْ أَوَّلَ كَلِمَةٍ بِلَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Artinya: Dari Ibnu Abbas, dari Nabi Muhammad Saw, ia bersabda: “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian kalimat pertama, dengan mengucapkan, ‘Laa ilaha illa Allah’.” (HR. Al-Baihaqi)

Ini menandai bahwa tauhid adalah fondasi spiritual utama. Setelah mengenalkan kalimat tauhid, anak dapat diajak memahami nilai-nilai keimanan lebih lanjut—seperti kepercayaan bahwa Allah senantiasa melindungi mereka, dan bahwa hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan.

Seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, bersumber dari Ibnu Abbas juga:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ: يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، ‌اِحْفَظِ ‌اللّٰهَ يَحْفَظْكَ، ‌اِحْفَظِ ‌اللّٰهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللّٰهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللّٰهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ، لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللّٰهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللّٰهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Artinya: Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Pada suatu hari aku berada tepat di belakang Rasulullah SAW. Lantas beliau bersabda: “Wahai anak, sungguh aku akan mengajarkan kepada kalian beberapa kalimat: 1) Jagalah (syariat) Allah, maka Dia akan menjagamu, 2) jagalah Allah, maka kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu, 3) apabila kamu memohon, memohonlah kepada Allah, dan 4) apabila kamu meminta sesuatu, maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah, jika umat manusia berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu dengan sesuatu, maka kemanfaatan itu tiada berguna kecuali dengan apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Begitu pula jika umat manusia berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, maka tiada mampu mereka mencelakakanmu kecuali atas ketetapan Allah. Pena-pena telah terangkat dan lembaran (takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi)

2. Menanamkan Tata Krama Sejak Kecil

Adab atau akhlak mulia merupakan prinsip kedua yang diajarkan Rasulullah SAW. Mulai dari hal sederhana, seperti mengucap salam saat masuk rumah.

Nilai ini diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW melalui hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas RA:

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا بُنَيَّ، إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ، فَسَلِّمْ، ‌يَكُنْ ‌بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أهْلِ بَيْتِكَ

Artinya: Dari Anas RA, ia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku: “Wahai anakku, apabila kamu masuk ke keluargamu, maka ucapkanlah salam. Niscaya (dengan salam itu) kamu akan memperoleh keberkahan, begitu juga dengan keluargamu.” (HR. At-Tirmidzi)

Selain itu, beliau juga mengajarkan pentingnya meminta izin sebelum memasuki rumah orang lain. Dalam satu riwayat Bukhari, Rasulullah SAW menegur Anas RA yang masuk rumah tanpa izin: “Tetaplah di tempatmu, wahai anakku… Maka janganlah sekali-kali masuk tanpa izin.” (HR. Bukhari)

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ خَادِمًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَكُنْتُ أَدْخُلُ بِغَيْرِ اسْتِئْذَانٍ فَجِئْتُ يَوْمًا فَقَالَ: كَمَا أَنْتَ يَا بُنَيَّ فَإِنَّهُ قَدْ حَدَثَ بَعْدَكَ أَمْرٌ ‌لَا ‌تَدْخُلَنَّ ‌إِلَّا بِإِذْنٍ

Artinya: Dari Anas RA, ia berkata: Aku pernah menjadi pembantu Nabi Muhammad Saw. Kemudian aku pernah masuk tanpa meminta izin. Tatkala aku datang pada hari  berikutnya, Nabi bersabda: “Tetaplah di tempatmu, wahai anakku. Sungguh telah terjadi suatu perkara setelahmu. Maka (selanjutnya) janganlah sekali-kali masuk tanpa izin.” (HR. Bukhari)

3. Membentuk Anak yang Jujur

Kejujuran adalah nilai ketiga yang menjadi perhatian Nabi. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Rasulullah SAW menegur seorang ibu yang berjanji akan memberi sesuatu kepada anaknya, padahal belum tentu dilakukan.

  عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عَامِرٍ أَنَّهُ قَالَ: أَتَانَا رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِنَا وَأَنَا صَبِيٌّ، قَالَ: فَذَهَبْتُ أَخْرُجُ لِأَلْعَبَ، فَقَالَتْ أُمِّي: يَا عَبْدَ اللّٰهِ تَعَالَ أُعْطِكَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَمَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيَهُ قَالَتْ: أُعْطِيْهِ تَمْرًا. قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّهُٰ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌أَمَا ‌إِنَّكِ ‌لَوْ ‌لَمْ ‌تَفْعَلِي كُتِبَتْ عَلَيْكِ كَذْبَةٌ

Artinya: Dari Abdullah bin ‘Amir, ia berkata: “Rasulullah Saw pernah datang ke rumah kami, ketika itu aku masih anak kecil. Maka pada masa tersebut, aku hendak keluar untuk bermain.” Kemudian ibuku berkata: “Wahai Abdullah, kemarilah! Aku hendak memberimu sesuatu.” Rasulullah menyahut dengan bertanya: “Apa benda yang hendak kau berikan kepadanya?” Ibuku menjawab: “Aku hendak memberikannya buah kurma.” Lalu Rasulullah menjawab: “Sungguh, jika engkau tidak melakukannya, maka akan dicatat bagimu satu (dosa) kebohongan.” (HR. Ahmad)

Pesan moralnya jelas: orang tua harus jujur dalam perkataan dan perbuatan. Anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tapi dari apa yang dicontohkan.

4. Membiasakan Ibadah Wajib

Nilai terakhir yang sangat ditekankan Rasulullah SAW adalah pentingnya membiasakan anak untuk menjalankan ibadah, terutama shalat. Dalam hadits riwayat Abu Dawud disebutkan:

عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌مُرُوْا ‌الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا

Artinya: Dari Abdul Malik bin Ar-Rabi’ bin Sabrah, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata: Nabi Muhammad Saw bersabda: “Perintahkanlah anak untuk sholat, apabila telah memasuki usia tujuh tahun. Dan jika mereka telah berusia sepuluh tahun, maka pukullah.” (HR. Abu Dawud)

Tentu, pendekatan mendidik harus dilakukan dengan kasih sayang dan penuh hikmah, bukan kekerasan. Pesan dari hadits ini adalah pentingnya konsistensi dan disiplin dalam menanamkan nilai ibadah.

Kesimpulan: Pendidikan Karakter Dimulai dari Rumah

Empat nilai dasar yang diajarkan Rasulullah SAW—tauhid, tata krama, kejujuran, dan ibadah—menjadi pondasi kokoh dalam membentuk karakter anak. Pendidikan bukan hanya soal otak, tetapi juga soal hati dan perilaku. Orang tua memegang peranan penting sebagai teladan dan pembimbing utama.

Dalam konteks kekinian, nilai-nilai ini tetap relevan dan menjadi pegangan utama dalam membentuk generasi berakhlak mulia. Sebuah warisan pendidikan dari Rasulullah SAW yang patut terus kita hidupkan di tengah tantangan zaman.

Wallahu a’lam bisshawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan