bogortraffic.com, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat ketahanan pangan nasional dengan memastikan pengawalan ketat terhadap hilirisasi sektor perunggasan. Fokus utama kali ini menyasar wilayah Sulawesi Selatan guna mendukung pasokan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus menjaga stabilitas rantai pasok protein hewani di Indonesia Timur.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa pembangunan ekosistem ini dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir agar lebih efisien dan berkelanjutan.
“Yang kita bangun bukan hanya produksi, tetapi ekosistem yang memastikan penyerapan, keberlanjutan dan dampak nyata bagi masyarakat,” kata Agung saat penandatanganan MoU kerja sama offtake antara ID FOOD dan PT Ugi Agri Harapan Indonesia di Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Agung menjelaskan bahwa langkah strategis ini diambil untuk memutus ketergantungan pasokan ayam yang selama ini masih berpusat di Pulau Jawa. Hal ini penting untuk mencegah ketimpangan harga dan stok di wilayah lain.
“Selama ini, produksi ayam nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sehingga berpotensi menimbulkan ketimpangan pasokan dan harga di wilayah lain apabila tidak diantisipasi secara sistematis,” ujarnya.
Dalam skema ini, BUMN pangan ID FOOD akan fokus pada penguatan sektor hulu seperti penyediaan bibit dan pakan. Sementara itu, kegiatan budidaya hingga pengolahan akan dijalankan bersama mitra dan peternak lokal agar implementasi berjalan paralel.
“Kunci keberhasilan ada pada implementasi di lapangan yang berjalan paralel dan terkoordinasi, bukan bertahap terpisah,” tambah Agung.
Jaminan Pasar bagi Peternak Lokal
Direktur Utama ID FOOD, Ghimoyo, memastikan bahwa hasil produksi peternak dalam ekosistem ini akan terserap secara optimal, terutama untuk memenuhi kebutuhan program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami memastikan hasil peternakan terserap, terutama untuk memenuhi kebutuhan program MBG, sehingga harga tetap stabil dan peternak memiliki kepastian pasar,” kata Ghimoyo.
Senada dengan hal tersebut, Direktur PT Ugi Agri Harapan Indonesia, Andi Damisnur, menyatakan kesiapannya menjalankan program integrasi ini di lapangan. Ia berharap program yang dimulai di Bone ini dapat meluas ke seluruh Sulawesi Selatan hingga Indonesia Timur.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri, sehingga kolaborasi dengan BUMN dan berbagai pihak menjadi kunci agar seluruh proses dari produksi hingga distribusi berjalan terintegrasi,” jelas Andi.
Melalui sinergi antara pemerintah, BUMN, dan pelaku usaha, Kementan optimis ekosistem perunggasan nasional akan semakin merata dan efisien. Langkah ini menjadi bagian dari tanggung jawab negara dalam menjaga stabilitas pasokan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak di seluruh pelosok negeri.






