bogortraffic.com, JAKARTA – Pasar aset crypto, khususnya Bitcoin (BTC), tengah mengalami tekanan harga yang signifikan. Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi (all-time high) di kisaran USD 126.210 pada Oktober 2025, harga BTC per 16 Februari 2026 berada di level USD 68.000, atau turun hampir 50 persen.
Di tengah volatilitas ini, trading derivatif crypto menjadi alternatif bagi para trader untuk memaksimalkan potensi keuntungan, baik dalam kondisi pasar naik (long) maupun turun (short).
Untuk mendukung strategi tersebut, Pintu Futures dari PT Pintu Kemana Saja (PINTU) menghadirkan lima fitur unggulan guna meminimalisir risiko pengguna.
Head of Product Marketing PINTU, Iskandar Mohammad, menekankan pentingnya pengendalian risiko dalam instrumen ini.
“Trading derivatif crypto tidak hanya soal mengejar potensi keuntungan, tapi juga tentang bagaimana seorang trader perlu mengontrol dan mengantisipasi risiko. Sepanjang 2025 kami terus menghadirkan fitur inovatif untuk mendukung manajemen risiko trading derivatif, yang sekarang semuanya sudah bisa dimaksimalkan oleh pengguna Pintu Futures,” tutur Iskandar Mohammad.
5 Fitur Unggulan Pintu Futures untuk Manajemen Risiko
Produk trading derivatif milik PINTU ini telah resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Berikut adalah lima fitur yang dapat dimanfaatkan trader:
* Take Profit dan Stop Loss: Memungkinkan pengaturan target profit dan batas rugi secara otomatis.
* Adjustable Leverage: Fleksibilitas untuk menyesuaikan tingkat leverage mulai dari 1x hingga 25x sesuai profil risiko masing-masing.
* Price Protection: Melindungi posisi dari slippage ekstrem saat pasar volatil dengan toleransi yang bisa diatur (0,2%, 1%, atau 2,5%).
* Initial Margin (IM) Buffer: Menambahkan margin cadangan agar posisi tidak cepat terkena likuidasi.
* Stop Order: Melakukan order otomatis saat harga mencapai level tertentu berdasarkan analisis teknikal, tanpa perlu memantau layar terus-menerus.
Urgensi penggunaan fitur manajemen risiko ini bukan tanpa alasan. Data Coinglass menunjukkan bahwa saat BTC jatuh ke level USD 60 ribu pada 6 Februari 2026, pasar crypto dihantam gelombang likuidasi sebesar USD 4,85 miliar.
Hal ini menyebabkan indeks fear & greed anjlok ke level 6, yang merupakan titik terendah di awal tahun 2026.
Iskandar menjelaskan bahwa meskipun derivatif menawarkan fleksibilitas tinggi, edukasi tetap menjadi fondasi utama.
“Trading derivatif crypto memberikan fleksibilitas bagi trader di berbagai kondisi pasar, bisa mengambil posisi long jika yakin harga naik, atau posisi short jika menilai harga akan turun. Namun perlu diingat bahwa ini masuk ke dalam kategori produk investasi high risk high return, maka dari itu, selain terdapat fitur untuk manajemen risiko, menganalisis kondisi pasar dan menambah informasi juga sangat penting. Semua informasi mengenai kondisi pasar dan tips trading derivatif crypto kami berikan lewat platform edukasi Pintu Academy dan Pintu News,” tutup Iskandar Mohammad.





