Ubah Matoa Jadi Olahan Bernilai Ekonomi, Tim Unair Dampingi Warga Transmigrasi Manokwari

Tim Ekspedisi Patriot Unair melatih warga Prafi, Manokwari, mengolah buah matoa menjadi produk bernilai jual hingga siap menembus pasar ekspor.

bogortraffic.com, MANOKWARI – Buah matoa yang sebelumnya kerap terbuang membusuk kini disulap menjadi sumber penghasilan baru bagi warga Kawasan Transmigrasi Prafi, Manokwari, Papua Barat.

Melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga, warga dibekali keterampilan mengolah matoa hingga siap menembus pasar swalayan, e-commerce, dan pasar ekspor.

Bacaan Lainnya

​Program ini menjangkau 17 mama Orang Asli Papua (OAP) lewat pelatihan langsung, 104 warga lokal melalui modul pembelajaran, serta lebih dari 200 warga transmigran asal Jawa.

​Ketua TEP UNAIR, Zamal Nasution, menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang agar pengembangan komoditas khas Papua ini berpusat dari tanah asalnya.

​“Buah matoa sebenarnya sudah dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia. Namun, kami ingin pengembangan komoditas yang menjadi kebanggaan Papua ini dimulai dari Papua sendiri melalui Tim Ekspedisi Patriot di Manokwari,” kata Zamal, Rabu (2/9/2026).

​Warga diajarkan mengolah matoa menjadi dodol, selai, aneka sambal, stik buah, teh herbal, es krim, hingga camilan kacang matoa. TEP UNAIR juga memfasilitasi legalitas Nomor Induk Berusaha (NIB) serta jaringan pemasaran yang luas.

​“Target selanjutnya adalah menembus pasar nasional melalui kerja sama dengan 10 perguruan tinggi negeri dan membuka akses pasar internasional melalui ASEAN University Network,” ujar Zamal.

​Warga Desa Dindey, Eta, menyampaikan rasa terima kasihnya atas pendampingan yang membuka peluang usaha baru bagi perempuan dan generasi muda di daerahnya.

​“Kami berterima kasih kepada kakak-kakak yang sudah datang dari jauh untuk mengajarkan kami di Distrik Warmare cara membuat es krim, sambal, dan dodol. Dengan begitu, mama-mama dan nona-nona bisa lebih tahu cara mengolahnya agar usaha kami semakin besar,” kata Eta, Kamis (3/9/2026).

​Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, turut menegaskan pentingnya membangun rantai nilai ekonomi lokal secara terpadu dari hulu ke hilir di wilayah transmigrasi.

​“Kita tidak boleh berhenti pada menanam dan mengekspor komoditas mentah. Kita harus membangun seluruh ekosistem ekonomi di Indonesia, mulai dari riset dan pembibitan hingga budidaya, pengolahan, logistik, produk hilir, dan pemasaran global,” kata Menteri Iftitah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan