CBL Dorong Pengembangan Ekosistem Baterai EV Terintegrasi di Indonesia

CBL bersama IBC dan ANTAM mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu ke hilir untuk memperkuat industri masa depan dan posisi Indonesia di pasar global.

bogortraffic.com, JAKARTA – Pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi melalui kerja sama antara joint venture Contemporary Amperex Technology Co., Limited/CATL–Brunp–Lygend (CBL) dan Indonesia Battery Corporation (IBC) dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat industri masa depan Indonesia.

Proyek tersebut dirancang untuk membangun rantai pasok baterai EV secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir, mencakup manufaktur, pengolahan material, hingga daur ulang baterai.

Bacaan Lainnya

Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem baterai kendaraan listrik global.

Direktur Utama CBL Indonesia, Wu Zhihui, mengatakan kerja sama ini merupakan bentuk komitmen CBL bersama CATL Group untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu kawasan penting dalam pengembangan industri baterai EV dunia.

“Melalui kerja sama ini, kami ingin membangun rantai pasok baterai yang terintegrasi di Indonesia, dari manufaktur hingga daur ulang, serta menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis penting dalam ekosistem baterai global,” ujar Wu dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Senayan, Jakarta, Senin (2/2/2026).

Sejalan dengan Hilirisasi dan Transisi Energi Nasional

Pengembangan proyek baterai EV terintegrasi ini juga dipandang sejalan dengan agenda hilirisasi industri dan transisi energi nasional. Selain memperkuat struktur industri dalam negeri, proyek tersebut membuka peluang transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri nasional, serta pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Dukungan kebijakan dan fungsi pengawasan DPR RI menjadi faktor penting untuk memastikan proyek berjalan sesuai dengan arah pembangunan nasional dan memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian.

Dalam kesempatan yang sama, Wu Zhihui juga menyampaikan apresiasi kepada Komisi XII DPR RI atas dukungan yang diberikan sejak tahap awal proyek, termasuk kehadiran anggota DPR dalam acara groundbreaking kerja sama CBL–IBC–ANTAM di Karawang pada Juni 2025.

“Dukungan Komisi XII DPR RI sejak tahap awal proyek menjadi faktor penting bagi kelancaran dan keberlanjutan pengembangan industri baterai ini,” katanya.

Perkuat Posisi Indonesia di Ekosistem Global

Secara global, konsorsium CBL memiliki rekam jejak kuat dalam pengembangan rantai pasok baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk penguasaan teknologi daur ulang baterai pasca-pakai.

“Pengalaman dan teknologi tersebut ingin kami bawa ke Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujar Wu.

Komisi XII DPR RI pun menyatakan dukungannya terhadap proyek pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik hasil kolaborasi CBL, IBC, dan ANTAM. DPR mengapresiasi langkah ketiga perusahaan yang membangun industri secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Kami merasa bersyukur ada perusahaan yang bergerak secara terintegrasi dari hulu ke hilir,” ujar salah satu perwakilan Komisi XII DPR RI.

Sementara itu, Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menekankan pentingnya dukungan regulasi dan insentif untuk mendorong pengembangan industri baterai EV yang terintegrasi secara nasional.

“Jadi IBC dan partner IBC berkomitmen membangun value chain baterai ini secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, sehingga kami berharap ada privilege dalam perhitungan TKDN dari produk kami nanti,” ujar Aditya.

Fasilitas Manufaktur Ditargetkan Beroperasi 2026

Dalam proyek ini, PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) berperan sebagai perusahaan patungan antara IBC dan konsorsium CBL.

Fasilitas manufaktur baterai tersebut berlokasi di Karawang, Jawa Barat, dan menjadi bagian penting dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik nasional.

Pengembangan fasilitas manufaktur baterai di Karawang saat ini terus menunjukkan kemajuan dan ditargetkan mulai memasuki tahap operasional pada kuartal III 2026, seiring dengan penguatan ekosistem baterai EV terintegrasi di Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan