bogortraffic.com, BOGOR – Wilayah Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dalam dua pekan terakhir menjadi sorotan publik. Setelah digerebeknya pesta gay berkedok family gathering pada 22 Juni 2025, kawasan tersebut kembali menjadi perhatian akibat tragedi banjir dan longsor pada Sabtu, 5 Juli 2025.
Kepolisian Resor Bogor mengungkap penggerebekan pesta seks sesama jenis di sebuah vila di Megamendung, yang dihadiri sekitar 75 pria, mayoritas berasal dari Jakarta dan Bekasi.
“Laporan dari masyarakat, adanya sex party sesama jenis di wilayah Megamendung puncak,” kata Kapolsek Megamendung AKP Yulita Heriyanti, Senin (23/6/2025).
Dalam penggerebekan tersebut, polisi menyita berbagai peralatan seks yang ditemukan di lokasi. Kegiatan ilegal itu diketahui dilakukan dengan kedok acara family gathering, dan sempat mengundang keresahan masyarakat sekitar.
Hanya berselang sekitar dua pekan, bencana alam melanda wilayah yang sama. Pada Sabtu, 5 Juli 2025, kawasan Puncak Bogor, termasuk Megamendung, diterjang banjir dan longsor yang cukup parah. Peristiwa ini terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur kawasan kaki Gunung Pangrango dan Gunung Salak.
Longsor dilaporkan terjadi di Kampung Rawa Sedek, Megamendung, dan mengakibatkan sejumlah akses jalan terputus. Beberapa kawasan terdampak, termasuk kampung pensiun Puncak, menjadi perhatian tim darurat.
“Saat ini kami sedang di lokasi. Banyak terjadi kejadian. Salah satunya, kampung pensiun Puncak,” ujar Kepala Tim Kedaruratan BPBD Kabupaten Bogor saat melakukan penanganan di lokasi.
Tragedi ini memperparah kondisi warga yang sebelumnya sudah resah akibat pengungkapan aktivitas ilegal di kawasan tersebut. Bencana banjir juga menyebabkan puluhan rumah terendam dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Bogor bersama BPBD, TNI, Polri, dan relawan kini fokus pada proses evakuasi, pendataan korban, dan penyediaan bantuan logistik untuk warga terdampak. Upaya pemulihan akses jalan dan pembersihan material longsor juga terus dilakukan.
Peristiwa yang beruntun ini menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat terhadap aktivitas sosial di kawasan wisata seperti Puncak, serta penanganan yang komprehensif terhadap potensi bencana alam yang kerap terjadi saat musim hujan.





