Indonesia Kejar Target Triple 95 Tahun 2030, Media Jadi Kunci Hapus Stigma dan Diskriminasi Terhadap ODHIV

Diskusi Media: Capaian Program Nasional HIV AIDS dan Tantangan Mencapai Target Global 2030 dengan tema “Menguatkan Respons HIV 2025, Peran Media dalam Mendorong Aksi dan Mengurangi Stigma”.

bogortraffic.com, JAKARTA – Dalam menanggulangi epidemi HIV/AIDS, kendati sejumlah capaian telah diraih, namun Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam komitmen mencapai triple 95 di tahun 2030.

Hingga akhir 2023, Kementerian Kesehatan RI mencatat peningkatan kasus infeksi HIV baru, dengan proyeksi mencapai lebih dari 515 ribu kasus pada periode Januari–September 2023.

Bacaan Lainnya

Persoalannya, baru sekitar 40 persen orang dengan HIV (ODHIV) yang telah mengakses pengobatan antiretroviral (ARV). Kondisi ini menjadi latar belakang terselenggaranya Diskusi Media: Capaian Program Nasional HIV AIDS dan Tantangan Mencapai Target Global 2030 dengan tema “Menguatkan Respons HIV 2025, Peran Media dalam Mendorong Aksi dan Mengurangi Stigma”.

Indonesia berkomitmen mencapai target global Triple 95 pada 2030, yakni:

  1. 95 persen orang dengan HIV mengetahui statusnya.

  2. 95 persen dari mereka yang terdiagnosis mendapatkan terapi ARV.

  3. 95 persen dari mereka yang menjalani terapi mencapai supresi virus.

Peran Sentral Media dalam Perubahan Persepsi

Dalam diskusi tersebut, tantangan struktural seperti keterbatasan akses layanan, krisis pendanaan global, serta kuatnya stigma menjadi sorotan. Lely Wahyuniar, Strategic Information Advisor UNAIDS Indonesia, menegaskan bahwa media massa dan digital adalah elemen kunci.

“Media adalah kunci. Media massa dan digital memiliki peran sentral dalam memperkuat respons HIV menuju target 2030 di Indonesia,’’ tutur Lely Wahyuniar.

‘’Media memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah persepsi publik dan mendorong aksi nyata, baik di tingkat lokal maupun global,’’ ujar Lely Wahyuniar lebih lanjut.

Lely juga menekankan pentingnya empati untuk melindungi nyawa.

‘’Setiap orang berhak hidup sehat dan bermartabat. Ketika stigma dan diskriminasi masih ada, kita kehilangan kesempatan untuk melindungi lebih banyak nyawa. UNAIDS mengajak semua pihak, termasuk media, untuk menjadi bagian dari perubahan dengan menyebarkan informasi yang akurat dan berempati,” ujarnya.

Suara Komunitas: Harapan akan Kesetaraan

Dari sisi komunitas, tantangan nyata di lapangan diungkapkan oleh Hartini, seorang ODHIV yang menekankan bahwa yang mereka butuhkan hanyalah kesetaraan akses tanpa adanya diskriminasi.

“Menjadi orang yang hidup dengan HIV sangat tidak mudah. Kami tidak meminta layanan khusus, cukup layanan publik yang dapat diakses tanpa stigma dan diskriminasi,’’ tegas Hartini.

‘’Jangan lagi bebani kami dengan pemberitaan yang menyakitkan,” ujarnya.

Para pembicara sepakat bahwa pemberitaan yang akurat dan berperspektif hak asasi manusia mampu mendorong dukungan kebijakan di tingkat nasional maupun lokal. Di tengah ancaman disrupsi pendanaan internasional pada 2025, kolaborasi antara pemerintah, organisasi internasional, masyarakat sipil, dan media menjadi kunci utama.

Melalui diskusi ini, diharapkan terbangun komitmen media untuk menyajikan pemberitaan yang beretika dan berdampak guna memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS menuju 2030.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan