Pasar Properti Indonesia Tunjukkan Stabilisasi di Akhir 2025, Harga Rumah Seken Mulai Naik Tipis

Pasar properti Indonesia menutup 2025 dengan sinyal stabilisasi. Harga rumah seken nasional naik tipis 0,2% pada Desember 2025, menandai pasar yang makin sehat dan rasional. (foto: Dok. Rumah123)

bogortraffic.com, BOGOR – Pasar properti Indonesia menutup tahun 2025 dengan sinyal stabilisasi yang semakin jelas setelah melewati periode penyesuaian sepanjang tahun. Flash Report Januari 2026 by Rumah123 mencatat bahwa pada Desember 2025, harga rumah seken nasional kembali naik tipis 0,2% secara bulanan, setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, harga rumah seken nasional tumbuh 0,7%, menunjukkan bahwa pasar mulai menemukan titik keseimbangannya.

Di sisi lain, inflasi tahunan pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92%, masih berada di atas pertumbuhan harga rumah. Meski demikian, kondisi ini mencerminkan karakter pasar yang semakin sehat, di mana pergerakan harga tidak lagi dipicu oleh spekulasi, melainkan oleh daya beli dan kebutuhan riil masyarakat.

Bacaan Lainnya

Sepanjang 2025, pergerakan harga rumah cenderung lebih moderat dibandingkan dua tahun sebelumnya. Namun memasuki penghujung tahun, tren stabilisasi mulai terlihat. Pada Desember 2025, 9 dari 13 kota yang dipantau Rumah123 sudah kembali berada di zona pertumbuhan harga tahunan positif.

Menurut Marisa Jaya, Head of Research Rumah123, fase ini menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan pasar properti nasional.

“Pasar properti Indonesia sepanjang 2025 bergerak dalam fase konsolidasi yang sehat. Di akhir tahun, kita mulai melihat tanda-tanda stabilisasi. Konsumen tetap aktif mencari rumah, tetapi semakin rasional dan selektif. Ini membentuk fondasi yang lebih kuat untuk pertumbuhan yang lebih berkelanjutan ke depan.”.

Harga Rumah di Sejumlah Kota Mulai Menguat

Secara bulanan pada Desember 2025, sejumlah kota mencatat pergerakan harga yang cukup menonjol. Surakarta mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 3,8% MoM, disusul Makassar sebesar 1,7% dan Yogyakarta 1,3%.

Sementara secara tahunan, pertumbuhan harga tertinggi tercatat di Denpasar yang naik 2,5% YoY, diikuti Bekasi 2,4% dan Makassar 2,2%. Di kawasan Jabodetabek, pergerakan harga semakin stabil, dengan Bekasi mencatatkan pertumbuhan tahunan 2,4%, sedangkan Tangerang dan Depok masing-masing tumbuh 0,4% dan 0,1% secara tahunan.

Menariknya, Yogyakarta yang sempat mencatat pertumbuhan agresif sepanjang Januari–Oktober 2025 di kisaran 3,7% hingga 10,9%, kini memasuki fase normalisasi dengan pertumbuhan tahunan 0,9% pada Desember 2025. Pola serupa terlihat di Denpasar, yang melambat ke 2,5% YoY setelah sebelumnya bergerak di kisaran 2,4%–9,3%.

Suplai Menyusut, Harga Tetap Terkendali

Dari sisi suplai, jumlah listing rumah seken nasional pada Desember 2025 tercatat turun 1,0% secara bulanan, dan secara tahunan masih berada dalam tren kontraksi. Namun, penyusutan suplai ini tidak diikuti lonjakan harga.

Kondisi tersebut memperkuat indikasi bahwa keseimbangan pasar saat ini lebih ditentukan oleh permintaan yang semakin hati-hati dan rasional.

“Ini menunjukkan bahwa pasar properti Indonesia saat ini jauh lebih matang. Harga tidak lagi naik hanya karena stok berkurang, tetapi benar-benar mengikuti kemampuan dan kebutuhan pembeli,” tambah Marisa.

Minat Pencarian Rumah Tetap Solid

Dari sisi permintaan, minat masyarakat untuk mencari hunian tetap solid dan masih terkonsentrasi di wilayah utama. Pada Desember 2025, Tangerang menjadi lokasi dengan proporsi pencarian tertinggi secara nasional sebesar 13,9%, disusul Jakarta Selatan 11,4% dan Jakarta Barat 9,7%.

Namun secara dinamis, pertumbuhan minat mulai bergeser ke wilayah penyangga dan kota di luar Pulau Jawa. Di Jabodetabek, Tangerang Selatan dan Depok mencatat kenaikan proporsi pencarian bulanan tertinggi, sementara di luar Jawa, Batam menjadi salah satu kota dengan peningkatan minat paling menonjol.

Segmentasi Pasar Semakin Kuat

Berdasarkan pergerakan median harga rumah menurut ukuran, pasar menunjukkan segmentasi yang semakin jelas:

  • ≤60 m²: Makassar, median Rp675 juta (+12,9% YoY)
  • 61–90 m²: Surakarta, median Rp850 juta (+41,7% YoY)
  • 91–150 m²: Yogyakarta, median Rp1,8 miliar (+24,1% YoY)
  • 151–250 m²: Yogyakarta, median Rp2,8 miliar (+9,8% YoY)
  • ≥251 m²: Makassar, median Rp5 miliar (+11,1% YoY)

Makassar menjadi satu-satunya kota yang mencatatkan pertumbuhan median harga tertinggi di segmen rumah kecil dan besar sekaligus, menandakan permintaan yang datang dari spektrum pembeli yang luas.

Suku Bunga Turun, 2026 Dinilai Lebih Prospektif

Dari sisi makro, sepanjang 2025 Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan hingga 4,75%, sementara inflasi kuartal IV 2025 berada di kisaran 2,72%–2,92%. Ke depan, keberlanjutan kebijakan pemerintah seperti insentif PPN DTP 100% dan program FLPP diharapkan menjadi penopang tambahan bagi pasar, khususnya segmen hunian terjangkau.

“Dengan harga yang bergerak lebih terkendali, pasar yang semakin tersegmentasi, dan konsumen yang semakin rasional, 2025 justru menjadi tahun penting dalam membentuk fondasi pasar properti yang lebih sehat. Ini menjadi modal yang sangat baik untuk memasuki 2026 dengan ekspektasi pertumbuhan yang lebih berkualitas,” tutup Marisa.

Secara keseluruhan, Flash Report Januari 2026 by Rumah123 mencatat bahwa pasar properti Indonesia telah melewati fase terlemahnya dan kini memasuki periode stabilisasi. Dalam semangat #RumahUntukSemua, Rumah123 terus menghadirkan data dan insight pasar yang kredibel untuk membantu masyarakat dan pelaku industri mengambil keputusan hunian secara lebih rasional dan terukur.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan