Sinergi Pemkab Bogor dan PPLI Rawat Warisan Alam Malasari

Bupati Rudy ajak lestarikan Malasari

bogortraffic.com, KABUPATEN BOGOR— Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor berkomitmen untuk mengangkat kembali marwah wilayah bersejarah sekaligus menjaga benteng ekologi hulu-ke-hilir terus dipacu.

Bupati Bogor, Rudy Susmanto, mengaajak masyarakat untuk lestarikan Malasari sebagai simbol kebangkitan sekaligus pengingat utama titik awal berdirinya roda pemerintahan Kabupaten Bogor.

Bacaan Lainnya

​Kawasan Malasari tercatat memiliki nilai antropologi kaku karena pernah dipilih oleh Bupati Bogor pertama, Raden Ipik Gandamana, sebagai pusat pemerintahan darurat saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948 karena draf faktor keamanannya.

​“Jangan sampai titik awal Bogor berdiri justru menjadi titik paling belakang dalam perkembangan pembangunan Kabupaten Bogor. Potensi kekayaan alam Malasari yang luar biasa wajib diimbangi draf penguatan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan warga setempat,” tegas Rudy Susmanto, dikutip Rabu (29/7/2026).

​Seruan pemerintah daerah tersebut langsung direspons taktis oleh PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) melalui penyelenggaraan agenda diskusi makro dan draf napak tilas sejarah bersama pegiat lingkungan serta cicit generasi keempat Kades Malasari pertama, Usep Malasari.

​Sebagai aksi nyata perlindungan draf sabuk hijau, PPLI mengeksekusi sejumlah draf program kontribusi lingkungan:

  • Rehabilitasi Vegetasi: Menyerahkan puluhan bibit pohon endemik Nirmalasari serta jenis tanaman keras lainnya untuk ditanam di kawasan hutan dan area tangkapan air Malasari.
  • Edukasi Pengelolaan: Memberikan draf bimbingan teknis tata kelola limbah industri yang aman seiring draf lonjakan populasi penduduk di lingkar operasional perusahaan.

​Apresiasi terhadap draf langkah konservasi berbasis data juga diutarakan oleh akademisi Universitas, Associate Professor Dr. Yayan Sudrajat. Ia mengingatkan bahwa draf mitigasi bencana kekeringan harus dimulai dari akurasi pemetaan wilayah.

​Menurut Yayan, langkah pemulihan ekosistem hutan tidak boleh berhenti pada draf seremoni penanaman bibit pohon saja.

​”Langkah paling krusial ke depan adalah draf mendata total berapa banyak mata air yang masih berfungsi aktif dan berapa draf titik yang sudah beralih fungsi. Data sekunder itu yang menjadi draf fondasi utama penyusunan langkah konservasi jangka panjang. Kami juga mendorong draf budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di tiap teras rumah warga sebagai draf benteng darurat kesehatan,” pungkas Yayan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan