bogortraffic.com, JAKARTA – Program Percepatan Reforma Agraria (PPRA) yang telah berjalan sejak tahun 2018 kini mendekati masa akhir pelaksanaannya pada Oktober 2024. Program ini, yang dijalankan dengan kerja sama antara Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dan World Bank, telah mencapai hasil yang membanggakan.
Direktur Jenderal Survei dan Pemetaan Pertanahan dan Ruang (Dirjen SPPR), Virgo Eresta Jaya, menginstruksikan seluruh jajarannya untuk memberikan hasil terbaik sebagai penutup dari program yang telah berlangsung selama enam tahun ini.
“Program bersama World Bank ini memang lebih berat mengakhiri dari memulainya. Tapi kalau kita bisa akhiri ini dengan baik, kita bisa betul-betul sempurna melalui satu siklus yang dimulai dari tahun 2018 hingga 2023, dengan perpanjangan di tahun 2024,” ujar Dirjen SPPR saat memberikan sambutan pada Workshop Strategi Pengakhiran Program PPRA Tahun 2024 yang digelar di Hotel Novotel Bogor, Rabu (21/08/2024).
Sejauh ini, Kementerian ATR/BPN berhasil mencapai berbagai prestasi yang signifikan melalui PPRA. Salah satu pencapaian terbesar adalah pendaftaran 8,8 juta hektare bidang tanah, melampaui target yang telah ditetapkan pada awal program.
Selain itu, Kementerian ATR/BPN juga berhasil melakukan digitalisasi layanan pertanahan, termasuk penerbitan Sertipikat Tanah Elektronik dan Hak Tanggungan Elektronik. Inovasi lainnya mencakup revitalisasi gedung arsip di lebih dari 140 Kantor Pertanahan serta penerbitan sertipikat tanah ulayat di beberapa daerah.
Prestasi ini mendapat pengakuan internasional, dengan Menteri ATR/Kepala BPN, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), diundang sebagai pembicara di Konferensi Tanah Dunia di Washington DC pada Mei 2024.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri AHY berbagi pengalaman tentang bagaimana Kementerian ATR/BPN berhasil mendaftarkan bidang tanah secara masif, yang menjadi salah satu capaian terbaik di tingkat global.
“Kita berterima kasih sekali kepada World Bank atas bantuannya, dan juga kepada seluruh jajaran Kementerian ATR/BPN atas capaian yang telah diraih. Kita sudah cukup berbangga dengan prestasi-prestasi ini, tetapi kita harus mengakhiri program ini dengan husnulkhatimah,” ungkap Virgo Eresta Jaya.
Sementara itu, Land Tenure Consultant dari World Bank, Cecilia Juwita, yang turut hadir dalam kegiatan ini, juga memberikan apresiasi yang tinggi atas keberhasilan PPRA.
“Task Team Leader dari World Bank cukup bangga dengan PPRA karena ini merupakan salah satu proyek pertanahan terbaik di tingkat global dalam beberapa dekade terakhir, dengan pendaftaran yang sangat masif dalam waktu yang singkat. Kami sangat bangga mendukung Bapak/Ibu dalam implementasi program ini,” tuturnya.
Workshop ini juga dihadiri oleh sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Kementerian ATR/BPN, perwakilan dari Badan Informasi Geospasial (BIG), serta berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam PPRA.
Program ini diharapkan dapat ditutup dengan capaian yang sempurna, menandai keberhasilan kerja sama antara Kementerian ATR/BPN dan World Bank dalam mempercepat reforma agraria di Indonesia.






