bogortraffic.com, JAKARTA— Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menggagalkan penyelundupan berskala besar.
Petugas berhasil menyita 43 kontainer berisi pakaian bekas impor ilegal Tanjung Priok, Jakarta Utara, serta menggeledah dua gudang penimbunan di Kalimantan Barat.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa operasi senyap ini berhasil mengamankan aset selundupan dengan taksiran nilai ekonomis yang sangat fantastis.
”Total muatan dalam 43 kontainer itu diperkirakan mencapai 4.687 ball, dengan nilai ekonomi mencapai sekitar Rp37,5 miliar,” ungkap Menkeu Purbaya saat memimpin konferensi pers di Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (23/6/2026).
Pengungkapan kasus ini bermula dari intelijen kepabeanan yang mengendus pergerakan mencurigakan KM Eden Mas pada Rabu (17/6/2026).
Kapal kargo tersebut berlayar dengan rute domestik dari Pelabuhan Dwikora (Pontianak) menuju Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta Utara).
Dalam manifes pelayaran, kapal tersebut tercatat mengangkut 268 kontainer, di mana 222 di antaranya dilaporkan sebagai kontainer kosong. Sementara itu, 46 kontainer sisanya diklaim berisi mi instan, kargo umum, dan barang pindahan.
Namun, saat petugas melakukan pemeriksaan fisik secara mendalam, ditemukan anomali besar. Sebanyak 43 kontainer di antaranya justru ditumpuk penuh oleh ribuan pakaian bekas siap edar.
”Hingga tanggal 22 Juni 2026, pemeriksaan fisik baru rampung terhadap 19 kontainer, dan kami menemukan 2.067 ballpress berisi pakaian, aksesori pakaian, serta tas bekas,” jelas Purbaya.
Menkeu menegaskan bahwa penindakan hukum tidak akan berhenti pada level penyitaan barang bukti saja. Saat ini, tim gabungan Ditjen Bea Cukai tengah melakukan investigasi menyeluruh untuk memburu aktor intelektual, importir, hingga pemilik gudang yang terlibat dalam rantai pasok ilegal ini.
Langkah tegas ini diambil guna memproteksi industri tekstil dalam negeri dari gempuran barang selundupan, sekaligus menegakkan kepatuhan hukum di wilayah pabean Indonesia.
Proses hukum dipastikan akan terus bergulir hingga ke tingkat persidangan guna membongkar tuntas jalur distribusi hilir di berbagai daerah.





