bogortraffic.com, BENER MERIAH— Akselerasi pemulihan urat nadi perekonomian di dataran tinggi Gayo terus dipacu pascabencana.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat mengamankan mobilitas logistik dengan menetapkan kebijakan di mana pihaknya bangun jalur alternatif Bener Meriah via ruas Simpang Lancang–Werlah, Aceh.
Langkah makro ini diambil sebagai solusi jangka panjang setelah banjir bandang pada November 2025 lalu merusak struktur utama Jembatan Enang-Enang, yang menjadi jalur penghubung vital komoditas pertanian masyarakat.
”Kita tidak hanya berfokus memperkuat Jembatan Enang-Enang, tetapi juga menyiapkan akses mitigasi yang lebih tangguh. Jalur alternatif Simpang Lancang–Werlah ini akan menjadi penguat konektivitas hulu-hilir masyarakat, memperlancar distribusi logistik kopi dan hasil bumi, sekaligus menyokong stabilitas ekonomi warga Bener Meriah,” tegas Menteri PU, Dody Hanggodo, dalam keterangan resminya, Senin (13/7/2026).
Proyek infrastruktur tangguh bencana ini dirancang untuk memutus ketergantungan mobilitas warga Kecamatan Pintu Rime Gayo pada satu akses tunggal.
Kementerian PU akan melakukan peningkatan kapasitas fisik secara signifikan pada ruas Simpang Lancang–Werlah sepanjang 8 kilometer.
Target Teknis: Pelebaran badan jalan hingga mencapai 6 meter dan pengaspalan penuh (hotmix).
Dampak Nyata: Memotong waktu tempuh distribusi, meminimalkan risiko kecelakaan, serta memberikan kenyamanan bagi kendaraan angkutan barang bermuatan berat.
Tidak hanya fokus pada pengaspalan jalan, Kementerian PU juga telah mengalkulasi kebutuhan jembatan permanen baru yang ramah terhadap mobilitas dua arah.
Untuk tahun anggaran 2026, total kebutuhan dana taktis untuk pengerjaan jalan dan jembatan ini diestimasikan menyerap anggaran sekitar Rp100 miliar.
Pemerintah akan mendirikan dua infrastruktur penyeberangan utama, yakni Jembatan Werlah dan Jembatan Simpang Lancang.
Khusus untuk Jembatan Simpang Lancang, konstruksinya dirancang kokoh dengan bentang struktur mencapai 45 meter.
Di sisi lain, perbaikan Jembatan Enang-Enang lama yang mengalami kemiringan pondasi akibat gerusan arus sungai hulu kini telah diamankan dengan penyangga darurat dan segera memasuki tahap penguatan permanen.
”Selama proses konstruksi fisik jembatan permanen berjalan, mobilitas masyarakat di lapangan tetap kita jamin aman melalui optimalisasi jembatan fungsional sementara. Struktur darurat ini memanfaatkan box container yang diperkuat pelat baja khusus untuk menjaga roda ekonomi Gayo tetap bergerak,” pungkas Dody.





