bogortraffic.com, BOGOR – Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Ditjen Intram) Kementerian Perhubungan, Risal Wasal, menyatakan bahwa digitalisasi pembayaran adalah kunci untuk menekan biaya, meningkatkan efisiensi, dan memperluas jangkauan integrasi transportasi berkelanjutan di Indonesia.
Hal ini disampaikannya dalam Focus Group Discussion (FGD) di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Selasa (2/9).
Risal mengungkapkan, biaya transportasi di Indonesia masih tinggi, mencapai 12,46% dari total biaya hidup, jauh di atas standar ideal 10% menurut World Bank.
“Dengan adanya integrasi tarif dan sistem pembayaran terpusat, beban itu bisa ditekan,” jelasnya.
Selain itu, tingginya mobilitas masyarakat, khususnya di Jabodetabek yang mencapai lebih dari 75 juta perjalanan harian, juga menjadi tantangan.
Menurut Risal, tanpa integrasi yang baik, mobilitas ini sulit dikelola dan justru menambah beban biaya serta waktu tempuh.
Sistem pembayaran digital dengan tap-in dan tap-out memainkan peran krusial dalam menghasilkan data perjalanan.
Data ini menjadi dasar bagi perencanaan kapasitas, subsidi tarif, dan memastikan layanan angkutan umum terhubung secara efektif.
Saat ini, integrasi tarif antar moda sudah diterapkan di Jakarta, mencakup TransJakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta dengan tarif maksimum Rp10.000.
Ke depan, Ditjen Intram akan memperluas integrasi ini ke moda lain di bawah PT Kereta Api Indonesia, seperti KAI Commuter dan LRT Jabodebek.
Menurut Risal, langkah ini adalah fondasi menuju konsep yang lebih luas, yaitu Mobility as a Service (MaaS).
“Dalam konsep ini, berbagai moda transportasi dapat direncanakan, dipesan, dan dibayar dalam satu platform terintegrasi. Dengan begitu, masyarakat akan menikmati perjalanan yang lebih mudah, murah, dan efisien,” tegasnya.
FGD ini juga dihadiri narasumber dari Bank Indonesia, Dinas Perhubungan Kota Surakarta, dan Gopay, serta dimoderatori oleh Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).





