bogortraffic.com, SEMARANG – Paparan uap rokok elektrik menyebabkan pembentukan agregat melalui proteostasis dan gangguan autophagy sebagai mekanisme untuk menginduksi stress oksidatif inflamasi, apoptosis, dan penuaan pada sel yang terpapar.
Cairan rokok elektrik menginduksi stress oksidatif, terutama pada rokok elektrik yang mengandung nikotin. Pada penelitian secara in vitro membuktikan bahwa rokok elektrik memiliki efek sitotoksik, stress oksidatif, dan peradangan pada sel dengan memicu pelepasan sitokin dan mediator proinflamasi.
Sebagian besar penelitian secara in vitro juga menyimpulkan bahwa efek stress oksidatif dan peradangan pada rokok elektronik sebanding dengan rokok konvensional.
Demikian dikatakan Maria Meutia Saleha, Mahasiswi Fakultas Kedokteran Undip dalam webinar Kesehatan bertema; “Lebih Aman Mana, Vape atau Rokok,” yang digagas PMI Kota Semarang dan Undip.
Webinar terbuka untuk umum yang dibuka Dekan FK Undip Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B.Subsp.-onk(K), itu Meutia menjelaskan studi eksperimental pada hewan yang mendapatkan paparan jangka panjang uap rokok elektrik terhadap tikus dapat menyebabkan asma dan emfisema.
“Peningkatan infiltrasi sel inflamasi serta stress oksidatif pada saluran napas yang terpapar uap rokok elektronik juga menjadi efek yang tidak dapat dikesampingkan. Gangguan pertahanan antimikroba paru pada hewan yang diberi paparan uap rokok elektronik menyebabkan peningkatan penyakit dan kematian akibat virus,” kata Meutia secara daring, Sabtu (28/9/2024) pagi.
Dia menambahkan, studi eksperimental yang dilakukan pada manusia, menemukan bahwa asap rokok elektrik menyebabkan efek toksisitas, gangguan kardiovaskular berupa peningkatan denyut jantung, pada sistem pernafasan, berpengaruh terhadap peningkatan impedansi dan resistensi saluran napas.
Bahan utama rokok elektrik yang menghasilkan uap yang terlihat adalah glikol, propilen glikol, dan gliserin. Glikol biasanya digunakan sebagai efek asap dan kabut pada pertunjukan teater, batuk akut dan tenggorokan kering seringkali dikaitkan dengan paparan akut kabut berbasis glikol.
Pada pekerja yang paling dekat dengan sumber kabut yang mengandung glikol, secara signifikan memiliki fungsi paru yang lebih rendah. Hal ini terjadi karena Propilen glikol menyebabkan perubahan minimal pada struktur sel bersilia di saluran pernapasan, utamanya terlihat pada sel goblet yang dengan cepat mengeluarkan lendirnya, dan menunjukkan peningkatan jumlah sel goblet di saluran pernapasan, iritasi pada saluran pernapasan atas, dan mengakibatkan metaplasia skuamosa epiglotis setelah diberikan paparan pada konsentrasi yang terdapat pada rokok elektrik.
“Gliserin berfungsi sebagai pembawa larutan perasa dan dianggap aman untuk asupan oral. Kandungan nikotin pada rokok elektrik yang hampir sama dengan rokok konvensional membuat perokok yang beralih ke rokok elektrik tidak dapat menghilangkan kecanduan nikotin,” tekan Mahasiswi Semester 7 itu.
Lebih lanjut Meutia menjelaskan, proses inflamasi atau peradangan akibat paparan rokok elektrik akan mempengaruhi saluran pernapasan, tak terkecuali trakea, misalnya pada tinggi silia epitel.
Radikal bebas yang terkandung dalam rokok elektrik serupa dengan rokok konvensional, menghirup rokok elektrik berdampak pada stress oksidatif seluler, ketidakseimbangan redoks, dan peradangan yang dapat menyebabkan fungsi mitokondria dalam menghasilkan ATP terganggu sehingga terjadi pemendekan atau hilangnya silia. Peradangan secara langsung akan menyebabkan diameter lumen trakea mengecil.
Peradangan juga mempengaruhi respon mukosiliar, yaitu tindakan terkoordinasi dari lendir dan silia untuk menjebak dan menghilangkan partikel dan patogen yang terhirup. “Respon mukosiliar yang terjadi dapat berupa pemendekan atau hilangnya silia dan bertambahnya jumlah cairan dalam tunika mukosa,” pungkasnya.





