bogortraffic.com, BOGOR- Kawasan Lingkung Gunung Adventure Camp yang asri di Pancawati, Caringin, Kabupaten Bogor, menjadi saksi bisu bergeloranya semangat pelestarian adat Sunda melalui event Ruang Riung Reang Karinding #2 pada 30–31 Mei 2026.
Gelaran budaya yang bertepatan dengan momentum Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 ini sukses menjadi jembatan kolaborasi yang mempertemukan para seniman, komunitas adat, pelajar, pegiat lingkungan, hingga masyarakat luas demi menjaga eksistensi warisan leluhur.
Mengangkat konsep harmoni di alam terbuka, festival ini memanjakan pengunjung dengan beragam agenda seru, mulai dari eksplorasi alat musik karinding, sarasehan budaya, edukasi tradisi, hingga aksi nyata penanaman pohon.
Lewat pendekatan interaktif ini, generasi muda diajak untuk menyelami lebih dalam filosofi hidup dan kearifan lokal Sunda yang mulai tergerus zaman.
Apresiasi tinggi datang dari Ki Mas Irfan, Pemilik Lingkung Gunung Adventure Camp sekaligus Pembina Forum Silaturahim Pendekar Indonesia (FSPI).
Menurutnya, Festival Karinding ini punya andil besar sebagai benteng budaya di tengah gempuran modernisasi.
“Kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi. Kegiatan seperti ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan wahana strategis untuk merawat identitas budaya Sunda dan menanamkan kecintaan kepada generasi muda. Budaya akan tetap hidup jika terus dipraktikkan,” ujar Ki Mas Irfan.
Ia juga menegaskan bahwa karinding bukan sekadar alat musik bambu biasa, melainkan simbol kesederhanaan dan keselarasan manusia dengan alam. Oleh karena itu, Lingkung Gunung berkomitmen penuh untuk terus menyediakan ruang interaksi budaya yang hidup.
Tidak berhenti di level festival, komitmen pelestarian ini diwujudkan secara berkelanjutan lewat Sanggar Alam Lingkung Gunung.
Berbagai program interaktif seperti workshop angklung, membatik, diskusi budaya, hingga offroad edukatif rutin digelar di sini.
General Manager Lingkung Gunung sekaligus Ketua Sanggar Alam, Dzaki Zaidan, menyebutkan bahwa festival ini adalah momentum penting untuk memperkuat ekosistem budaya di kawasan Gede Pangrango.
“Ruang Riung Reang Karinding #2 merupakan ruang perjumpaan antara alam, budaya, dan masyarakat. Kami ingin menghadirkan pengalaman budaya yang tidak hanya dinikmati sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana belajar dan membangun kesadaran kolektif,” kata Dzaki.
Dzaki berharap Sanggar Alam bisa menjadi wadah kolaboratif yang mempertemukan akademisi, pelaku seni, dan anak muda untuk melahirkan kreativitas baru tanpa mencabut akar tradisi.
Ke depan, Ruang Riung Reang Karinding ditargetkan menjadi agenda budaya tahunan resmi di Kabupaten Bogor.
Langkah nyata ini diharapkan mampu mendongkrak sektor pariwisata berbasis masyarakat di kawasan Gede Pangrango, sekaligus memastikan tongkat estafet kebudayaan Sunda tetap digenggam erat oleh generasi masa depan.





