bogortraffic.com, JAKARTA – Pusat Riset Oseanologi (PRO) BRIN memperingatkan meningkatnya ancaman pencemaran antropogenik di perairan Indonesia.
Dalam Oceanology Talk Series #4, Rabu (6/5/2026), para ahli menyoroti paparan logam berat di Sungai Cisadane serta bahaya mikroplastik yang kini mulai terdeteksi di organ vital manusia.
Kepala PRO BRIN, M. Furqon Azis Ismail, menegaskan bahwa tekanan aktivitas manusia terhadap laut membutuhkan respons berbasis sains karena berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
Peneliti PRO BRIN, Triyoni Purbonegoro, memaparkan hasil riset mengenai akumulasi logam berat kadmium (Cd) dan timbal (Pb) di hilir Sungai Cisadane:
- Sedimen: Berada pada kategori tercemar sedang berdasarkan Indeks Geoakumulasi (Igeo).
- Biota (Belut Sawah): Kandungan Cd dan Pb telah melampaui ambang batas standar nasional maupun internasional.
- Risiko Konsumsi: Meski tercemar, konsumsi belut sawah dari lokasi tersebut masih dianggap relatif aman hanya jika dibatasi maksimal 50 gram per minggu.
Sumber pencemaran diduga kuat berasal dari lindi TPA Cipeucang dan Rawa Kucing, limbah industri di Tangerang, serta residu pupuk pertanian.
Dosen Universitas Gadjah Mada, Sulistiowati, menyoroti fakta bahwa Indonesia masih masuk dalam lima besar penyumbang sampah plastik ke laut dunia. Hal ini berujung pada invasi mikroplastik yang mengerikan:
- Rantai Makanan: Mikroplastik ditemukan pada organisme laut seperti bulu babi dan ikan.
- Kesehatan Manusia: Partikel mikroplastik kini telah terdeteksi dalam darah, plasenta, hingga air susu ibu (ASI).
- Efek Ganda: Mikroplastik bertindak sebagai “kendaraan” yang membawa zat beracun dan logam berat masuk ke sistem tubuh manusia.
Para ahli mendesak perlunya pengelolaan DAS prioritas secara berkelanjutan. Langkah yang harus segera diambil meliputi pemantauan kualitas air rutin, perbaikan sistem pengelolaan sampah darat (di mana 43,8% sampah Indonesia belum terkelola), serta edukasi masif kepada masyarakat untuk menekan risiko kesehatan jangka panjang.
”Mikroplastik dan logam berat adalah ancaman nyata bagi keberlanjutan sumber daya alam kita,” tutup Sulistiowati.





