China dan Myanmar Perkuat Kerja Sama di Tengah Krisis Gempa dan Tantangan Perdamaian

Ilustrasi Gempa Bumi

bogortraffic.com, BOGOR – Pascagempa bumi berkekuatan 7,7 Mw yang mengguncang Region Sagaing pada Maret 2025, Myanmar masih berjuang menghadapi krisis kemanusiaan yang diperburuk oleh konflik internal. Bencana ini telah menewaskan lebih dari 5.400 orang dan menimbulkan kerugian hingga USD 11 miliar. Di tengah situasi yang sulit ini, China, sebagai mitra strategis, menjadi salah satu negara terdepan yang memberikan bantuan.

Beijing segera menyalurkan 100 juta yuan (Rp229 miliar) bantuan kemanusiaan serta mengirimkan tim SAR dari Provinsi Yunnan. Palang Merah China juga mengirimkan konvoi bantuan, meskipun sempat mengalami insiden penembakan oleh militer Myanmar di Negara Bagian Shan, yang menunjukkan rumitnya distribusi bantuan di lapangan.

Bacaan Lainnya

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan dukungan negaranya untuk stabilitas Myanmar tanpa intervensi langsung. Ia menyatakan bahwa China tidak ingin melihat Myanmar jatuh dalam kekacauan dan akan mendukung upaya perdamaian melalui mekanisme regional seperti ASEAN dan ASEAN+3.

Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa kepentingan China tidak semata-mata soal kemanusiaan. Diplomasi Beijing juga disebut sebagai sarana untuk melindungi proyek-proyek strategis Belt and Road Initiative (BRI) dan jalur perdagangan penting di wilayah tersebut. Kritik serupa sebelumnya juga muncul terkait peran China di Afghanistan.

Meskipun demikian, peran mediasi China dianggap penting. Beijing kerap memfasilitasi komunikasi antara junta militer dan kelompok etnis bersenjata, yang membantu menjaga jalur diplomasi tetap terbuka di saat hubungan Myanmar dengan negara-negara Barat memburuk.

Selain China, bantuan juga datang dari berbagai negara, termasuk Indonesia, India, Malaysia, hingga Amerika Serikat. Namun, efektivitas penyaluran bantuan masih menghadapi kendala logistik dan jaminan keamanan. Kerusakan infrastruktur jalan dan komunikasi memperlambat distribusi, sementara ada laporan yang menyebut junta militer sengaja memblokir akses ke wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak. PBB sendiri telah mendesak junta untuk menghentikan operasi militer demi kelancaran distribusi bantuan.

Ke depan, kerja sama antara ASEAN dan China dipandang dapat memainkan peran kunci. Kolaborasi regional ini diharapkan mampu memastikan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau seluruh korban dan memajukan proses perdamaian yang lebih inklusif.

Kerja sama China-Myanmar ini mencerminkan hubungan yang kompleks, yang di satu sisi sangat penting untuk pemulihan dan perdamaian, namun di sisi lain juga sarat akan kepentingan ekonomi. Keberhasilan jangka panjang akan sangat bergantung pada kesediaan semua pihak untuk mengutamakan aspek kemanusiaan di atas kepentingan politik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan