bogortraffic.com, BOGOR – Kasus pengoplosan beras yang dibongkar oleh Satgas Pangan Polri dan Kementerian Pertanian memicu pergeseran perilaku konsumsi masyarakat di Kabupaten Bogor. Warga kini kembali beralih dari ritel modern dan memilih pasar tradisional untuk membeli kebutuhan beras, karena alasan kepercayaan dan kualitas.
Kepala Pasar Leuwiliang, Mulyadi, mengungkapkan adanya peningkatan signifikan jumlah pembeli beras di pasar tradisional dalam beberapa hari terakhir. “Memang ada peningkatan volume pembeli beras, terutama setelah munculnya pemberitaan mengenai kasus beras oplosan. Banyak masyarakat yang kini beralih dari pasar modern ke pasar tradisional,” ujar Mulyadi, Selasa (5/8).
Menurutnya, konsumen merasa lebih yakin terhadap kualitas beras yang dijual oleh pedagang pasar tradisional. “Pasar tradisional jadi pilihan utama karena masyarakat percaya terhadap pedagang yang sudah mereka kenal. Mereka yakin beras yang dijual asli dan tidak dioplos,” lanjutnya.
Mulyadi menyampaikan apresiasinya kepada Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, atas ketegasannya mengungkap praktik curang yang merugikan masyarakat. “Alhamdulillah, Pak Menteri luar biasa. Beliau berani membongkar maraknya beras oplosan. Ini sangat membantu masyarakat dalam mendapatkan beras yang berkualitas,” katanya.
Salah satu pedagang di Pasar Leuwiliang, Haji Pepen (45), juga merasakan dampak positif dari tindakan pemerintah. Ia bersyukur, kepercayaan masyarakat terhadap pasar tradisional kembali meningkat. “Alhamdulillah, sejak pengungkapan kasus oleh Pak Menteri dan polisi, pembeli jadi lebih banyak. Pasar jadi ramai lagi,” ujarnya.
Langkah tegas pemerintah ini diharapkan menjadi titik balik dalam penguatan ekosistem distribusi pangan yang sehat dan adil, serta memastikan masyarakat mendapatkan produk yang aman dan layak konsumsi.





