bogortraffic.com, RIAU- Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi ancaman kebakaran lahan yang diprediksi meningkat pada musim kemarau 2025.
Hal ini disampaikan dalam rapat koordinasi bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Provinsi Riau, salah satu daerah dengan potensi kebakaran lahan tertinggi di Indonesia.
“Masalah kebakaran lahan bukan hanya tantangan lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi ketahanan pangan dan energi nasional. Semua pihak harus bersatu padu dalam menghadapinya,” ujar Menteri Hanif, Jumat (9/5).
Menteri Hanif mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dini, khususnya di lahan gambut dan kawasan perkebunan.
Ia menekankan bahwa perubahan iklim dan musim kemarau yang makin panjang menjadi faktor utama meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kita tidak bisa menunggu api menyebar. Tindakan preventif harus dilakukan sebelum itu terjadi,” tegasnya.
Hingga 9 Mei 2025, pemerintah mencatat 184 titik panas (hotspot) di berbagai wilayah Indonesia. Meski mengalami penurunan sekitar 61% dibandingkan tahun sebelumnya, Hanif menyebut kondisi ini tetap harus diwaspadai, terutama di wilayah rawan seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Riau.
Dalam paparannya, Menteri Hanif mengidentifikasi lima penyebab utama kebakaran lahan: penyiapan lahan pertanian dengan pembakaran, konflik agraria, dan kekeringan di lahan gambut. Ia menegaskan bahwa kebakaran lahan tak bisa lagi dianggap sebagai fenomena musiman. “Ini adalah bencana yang bisa dicegah jika semua pihak menjalankan perannya,” katanya.
Menteri Hanif juga memberikan apresiasi kepada GAPKI dan anggotanya atas komitmen dan peran aktif dalam mengurangi risiko kebakaran lahan. Ia menyebut manajemen kebakaran yang baik dari pihak swasta menjadi kunci tercapainya target zero fire di wilayah perkebunan.
“Jika seluruh perusahaan menerapkan sistem pengendalian kebakaran secara konsisten, kita memiliki harapan besar untuk menciptakan sektor perkebunan yang aman dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Dalam rangkaian kunjungan kerja di Kabupaten Siak, Menteri Hanif menyambangi posko Tim Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat (TKTD) di PT Kimia Tirta Utama (KTU), anak perusahaan Astra Agro.
Ia mengapresiasi sistem pengendalian kebakaran yang terintegrasi, lengkap dengan pelatihan, simulasi, serta infrastruktur pendukung.
Selain itu, Menteri Hanif melakukan penanaman pohon endemik dan mengunjungi kawasan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) yang dikelola PT KTU, tempat pelestarian spesies langka dan terancam punah. Menurutnya, pelestarian lingkungan harus berjalan berdampingan dengan aktivitas industri.
Menteri Hanif menyerukan komitmen bersama untuk menjaga lingkungan hidup. Ia menyebut leberhasilan mengendalikan kebakaran lahan adalah kemenangan bersama.
“Setiap orang bisa berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih baik, lebih hijau, dan bebas dari kebakaran,” ujarnya.






