bogortraffic.com, JAKARTA— Fluktuasi mata uang Garuda dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak mencerminkan kondisi riil ekonomi domestik.
Gejolak tersebut bukan dipicu oleh keretakan internal, melainkan murni imbas dari faktor psikologis dan sentimen pelaku pasar terhadap dinamika global.
Dalam Forum Ekonom Konstitusi bertajuk Masa Depan Rupiah dan Paradigma Baru, Kamis (11/6/2026), Ekonom Bestari Gede Sandra menegaskan bahwa sejumlah indikator utama perekonomian Indonesia sejatinya masih berada dalam posisi yang sangat solid.
”Pelemahan rupiah ini lebih banyak disebabkan oleh sentimen pasar. Kalau melihat fundamental ekonomi, kondisinya masih cukup baik. Pertumbuhan kita masih di atas 5 persen, inflasi terjaga di kisaran 3 persen, dan defisit fiskal tetap di bawah batas aman,” ungkap Bestari.
Menurut Bestari, salah satu bukti sahih kekuatan fiskal Indonesia dapat dilihat dari nilai surplus primer yang terus mencatatkan rapor hijau. Kondisi ini menjadi penyebab pelemahan nilai tukar rupiah kehilangan relevansi dasarnya secara fundamental, sebab pemerintah terbukti mampu membayar bunga utang tanpa bergantung pada utang baru.
Tercatat, posisi surplus primer nasional berada di angka Rp8 triliun pada April, lalu melonjak drastis hingga menyentuh kisaran Rp50 triliun pada Mei 2026.
Di sisi lain, tekanan eksternal dipicu oleh kebijakan moneter Amerika Serikat yang mempertahankan suku bunga tinggi, sehingga memicu arus modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang menuju aset berbasis dolar AS. Namun, Bestari optimistis tren jangka panjang ini justru akan mempercepat proses dedolarisasi melalui kerja sama perdagangan mata uang lokal (local currency transaction).
Pasar keuangan memang dikenal sangat sensitif terhadap isu pembiayaan program-program besar pemerintah. Sedikit saja muncul kekhawatiran, persepsi pasar akan langsung mengoreksi nilai tukar maupun indeks saham.
Guna meredam volatilitas tersebut, Bestari mengapresiasi penguatan koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia melalui bauran kebijakan moneter yang presisi.
”Kita melihat kebijakan repo yang memberikan tambahan likuiditas perbankan serta penyesuaian suku bunga di waktu yang tepat telah memberi sentimen positif. Jika koordinasi fiskal dan moneter ini terus dijaga, kepercayaan pasar akan meningkat dan rupiah berpeluang besar untuk kembali stabil,” pungkasnya.





