bogortraffic.com, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan respons tegas terhadap kritik yang menyebut pemerintah terlalu sering menarik utang.
Purbaya menilai utang merupakan instrumen produktif untuk ekspansi pembangunan selama dikelola secara terukur dan berkesinambungan.
Dalam wawancara pada Minggu (10/5/2026), Menkeu mengibaratkan negara seperti perusahaan yang memiliki prospek besar.
”Sama dengan perusahaan, kalau mau ekspansi dan punya prospek bagus, dia pasti utang. Yang penting acuan keberlanjutannya tetap kita patuhi,” ujar Purbaya.
Menkeu memaparkan data untuk menunjukkan bahwa posisi fiskal Indonesia masih jauh lebih sehat dibandingkan negara-negara tetangga maupun negara maju:
– Defisit Anggaran: Indonesia tetap menjaga defisit di bawah 3%, sementara India berada di angka 4% hingga 8%.
– Rasio Utang terhadap PDB: Indonesia berada di kisaran 40%, jauh di bawah batas aman undang-undang sebesar 60%.
– Perbandingan Regional: Singapura memiliki rasio utang hampir 180% terhadap PDB.
”Di ASEAN saja kita masih paling jago, apalagi di dunia. Kita lebih jago dari Singapura dalam hal rasio utang ke PDB,” tegas Purbaya.
Purbaya menegaskan bahwa fokus pemerintah bukan sekadar menambah angka utang, melainkan memastikan dana tersebut digunakan untuk memicu pertumbuhan ekonomi.
Ia mengingatkan bahwa negara dengan pertumbuhan cepat seringkali memiliki ruang defisit yang lebih lebar, namun Indonesia tetap memilih jalur yang lebih disiplin dan aman.
”Acuan fiskal kita paling ketat, dan sejauh ini kinerja kita masih menunjukkan hasil yang lebih baik dari sisi stabilitas,” pungkasnya.





