bogortraffic.com, KABUPATEN BOGOR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor terus mendorong pemerataan akses air bersih melalui Perumda Air Minum Tirta Kahuripan, dengan menggandeng sektor swasta dalam skema kerjasama Business to Business (B2B).
Selain itu, kawasan mata air Ciburial di Ciomas kini resmi ditetapkan sebagai kawasan heritage untuk menjaga kelestarian dan keaslian sumber air bersejarah tersebut.
Hal itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Perumda Tirta Kahuripan dan empat badan usaha swasta, yang digelar di mata air Ciburial, Kamis (15/5).
Bupati Rudy menegaskan pentingnya pelestarian sumber daya air, terutama Ciburial yang memiliki nilai historis tinggi.
“Karena ini adalah sumber air pertama yang mengaliri istana negara, maka kita tetapkan sebagai kawasan heritage agar tidak dibongkar, tidak dibangun, dan tetap lestari,” ujar Rudy.
Lahan Ciburial seluas 14 hektare kini dilindungi dari aktivitas pembangunan. Seluruh instalasi air akan dipertahankan bentuk aslinya, sementara vegetasi alami di sekitar area akan tetap dijaga untuk mendukung keberlanjutan sumber air.
Seiring berhentinya dukungan pendanaan dari APBN, Pemkab Bogor mengalihkan strategi pembangunan infrastruktur air minum melalui skema kerjasama B2B.
Empat proyek prioritas yang akan dikembangkan adalah sistem penyediaan air minum (SPAM) di wilayah Cigombong, Sukaraja, Ciampea, serta upaya pengurangan non-revenue water dari sumber Ciburial.
“Swasta hanya boleh membangun di hulu, di instalasi air bersih. Sementara pengelolaan dari hulu ke hilir tetap dipegang oleh PDAM,” tegas Rudy.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan cakupan pelayanan air bersih dari 30 persen menjadi 35 persen, bahkan ditargetkan mencapai 37 persen secara teknis.
Menanggapi penurunan debit air di kawasan Ciburial, Bupati juga menyampaikan bahwa Pemkab akan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dalam membangun sumur resapan dan program reboisasi di sekitar kawasan hutan. Tujuannya untuk menjaga debit dan keberlangsungan sumber air.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Kahuripan, Tedi Kurniawan, menyatakan bahwa cakupan layanan air minum saat ini masih terbatas.
“Layanan kami baru menjangkau 29 dari 40 kecamatan, dengan cakupan administratif 12,51% dan terhadap jumlah penduduk wilayah pelayanan baru 31,31%,” ujarnya.
Tedi menambahkan, pengembangan SPAM menjadi prioritas strategis karena masih banyak warga yang belum memiliki akses air minum layak. Salah satu proyek B2B yang sudah berjalan adalah SPAM Ciawi–Megamendung dengan kapasitas 150 liter per detik yang mulai beroperasi sejak 2024.
Seluruh program ini sejalan dengan target RPJMD Kabupaten Bogor 2025–2029, yang mengedepankan pembangunan infrastruktur dasar secara merata dan berkelanjutan. Pemkab Bogor ingin menjadikan daerah ini sebagai wilayah istimewa dan gemilang, mandiri tanpa bergantung pada dana pusat.
“Langkah ini penting agar kita tidak terus bergantung pada pemerintah pusat. Kita harus mampu mandiri dalam membangun dan melayani kebutuhan masyarakat,” pungkas Rudy.





