Solusi Darurat Sampah Nasional, Guru Besar IPB University Beri Mandat Khusus untuk Teknologi Waste-to-Energy

[ilustrasi AI by Gemenin] Teknologi Waste-to-Energy

bogortraffic.com, JAKARTA — Persoalan sampah di Indonesia kini dinilai telah memasuki fase darurat. Menanggapi kondisi tersebut, Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono, menilai bahwa pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy (WtE) memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari solusi nasional pengelolaan sampah.

Terutama di wilayah perkotaan yang menghadapi tekanan timbulan sampah yang semakin tinggi, ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan sistem open dumping dianggap sudah tidak memadai karena memicu pencemaran lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Dalam kondisi ini, WtE dapat berfungsi sebagai instrumen pengelolaan sampah yang efektif, selama diterapkan dengan prasyarat teknologi dan lingkungan yang ketat,” kata dosen di Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University ini saat berbicara pada diskusi yang digelar Tenggara Strategic di Jakarta pekan lalu.

Arief menjelaskan bahwa dari sisi ekologis, WtE berpotensi mempercepat waktu pengolahan sampah sekaligus mereduksi volumenya secara signifikan. Selain itu, teknologi ini membantu menurunkan emisi kebauan, memperbaiki sanitasi lingkungan, serta mengurangi produksi air lindi dan populasi lalat sebagai vektor penyakit.

“Panas hasil pembakaran selanjutnya dapat dikonversi menjadi energi listrik yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon nasional,” ujarnya.

Meski menjanjikan, Arief memberikan catatan penting mengenai karakteristik sampah di Indonesia. Sampah perkotaan di tanah air masih didominasi oleh bahan organik dengan kadar air yang tinggi, sehingga memerlukan penanganan awal yang berbeda dengan negara-negara maju.

“Teknologi harus dipilih setelah karakteristik sampah diketahui, bukan sebaliknya. Sampah perkotaan kita cenderung basah, sehingga perlu pengolahan awal agar proses pembakaran efisien dan aman bagi lingkungan,” ujar Arief dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Rabu (21/01/26).

Prasyarat utama lainnya adalah keamanan lingkungan, mulai dari sistem flue gas treatment untuk mengendalikan emisi, hingga pengelolaan abu sisa pembakaran baik kategori B3 maupun non-B3.

Arief menyebutkan sejumlah negara telah membuktikan keberhasilan WtE dengan pendekatan lingkungan yang ketat. Beberapa kota dan negara yang menjadi rujukan antara lain:

  • Jepang: Osaka dan Yokohama.

  • Eropa: Zurich (Swiss), Jerman, dan Belgia.

  • Lainnya: Dubai, Tiongkok, dan Singapura.

“Insinerator modern mampu mengurangi volume sampah hingga lebih dari 90 persen dengan standar pengendalian emisi yang ketat. Kunci keberhasilannya terletak pada pemilihan teknologi yang sesuai dengan karakteristik sampah nasional, serta pengawasan lingkungan yang transparan dan berkelanjutan untuk melindungi kesehatan masyarakat,” jelas pakar yang menyelesaikan studi S3 di University of Bonn, Jerman ini.

Langkah pemerintah yang tengah mengembangkan program WtE melalui Danantara Investment Management dinilai sudah berada pada jalur yang tepat. Namun, Arief tetap mewanti-wanti agar implementasinya dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

“Insinerator itu memang cara efektif untuk menyelesaikan sampah dalam waktu yang singkat, tetapi harus dijalankan dengan tata kelola dan pengawasan yang kuat agar benar-benar menjadi solusi, bukan sumber masalah baru,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan