bogortraffic.com, BOGOR- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor memberikan klarifikasi terkait dugaan pungutan liar (pungli) yang melibatkan petugas kebersihan di Pasar Merdeka. DLH menegaskan bahwa mereka tidak pernah memerintahkan pengumpulan uang dari pedagang untuk biaya kebersihan.
Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Bogor, Deden Adi Suryadi, menjelaskan bahwa setelah melakukan klarifikasi, ditemukan bahwa uang yang diterima oleh petugas kebersihan dari pedagang sebenarnya diberikan oleh preman dengan alasan untuk biaya kebersihan.
“Preman ini mengutip dari pedagang dengan alasan untuk kebersihan, padahal kami tidak pernah menarik uang kebersihan. Uang tersebut kemudian diberikan kepada petugas di lapangan sebagai uang capek, bukan sebagai iuran resmi,” ujarnya.
Deden menegaskan bahwa perintah dari DLH adalah untuk melakukan tugas kebersihan tanpa menarik iuran dari pedagang.
“Kami tidak pernah meminta iuran kebersihan dari pedagang. Petugas kebersihan hanya diperintahkan untuk membersihkan dan mengangkat sampah, bukan untuk menarik uang,” jelasnya.
DLH berkomitmen untuk melarang petugas kebersihan menerima uang dari pihak manapun di masa depan dan akan melakukan tindakan tegas jika ditemukan ada oknum yang terbukti terlibat dalam pungli.
“Kalau ketahuan ada yang terlibat, kami akan memberikan sanksi. Untuk Petugas Kerja Waktu Tertentu (PKWT) akan diberikan teguran 1-3 kali sebelum diberhentikan, sementara untuk ASN akan diberikan teguran yang ditembuskan ke inspektorat,” tambahnya.
Kepala Dinas DLH, Denni Wismanto, juga menyatakan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan tegas sesuai dengan hasil investigasi.
“Kami akan memeriksa lebih lanjut untuk menentukan sejauh mana keterlibatan petugas kebersihan dalam kasus ini. Apakah mereka meminta uang atau hanya menerima tips. Namun, prinsipnya jika ada pelanggaran, akan ada mekanisme sanksi yang berlaku,” tegas Denni.
Denni juga menyebutkan bahwa petugas kebersihan mungkin saja dimanfaatkan oleh preman, namun pihaknya belum dapat memberikan penilaian lengkap karena masih memerlukan informasi lebih mendalam.
“Kami masih mencoba menelusuri apakah ini berupa tips yang diberikan dengan sukarela atau ada unsur paksaan. Kami belum memiliki informasi lengkap, dan kebersihan sering menjadi alasan untuk praktik-praktik seperti ini,” jelasnya.





