Dorong Digitalisasi dan Kesetaraan, SisBerdaya 2026 Hadir dengan Kurikulum Baru untuk UMKM Perempuan Indonesia

Keterangan Foto: Inne Viryani (kiri), pendiri Riasafood

bogortraffic.com, JAKARTA – Sebagai tulang punggung perekonomian nasional, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Buruto (PDB) nasional. Namun, tantangan besar masih membayangi karena 99 persen UMKM masih berada di level Usaha Mikro. Pelaku UMKM perempuan khususnya, masih menghadapi hambatan struktural seperti kesenjangan literasi digital hingga keterbatasan akses pasar.

Menjawab tantangan tersebut, DANA dan Ant International Foundation kembali menghadirkan SisBerdaya dan DisBerdaya 2026: Perempuan Berteknologi Membangun Bisnis & Kesetaraan. Program ini menargetkan partisipasi hingga 6.000 pelaku UMKM di seluruh Indonesia, naik 20 persen dari tahun sebelumnya.

Bacaan Lainnya

5 Mindset Sukses Agar UMKM Naik Kelas

Belajar dari para juara sebelumnya, terdapat lima pola pikir atau mindset utama yang perlu ditanamkan oleh para pelaku usaha:

  1. Siap dan Adaptif dengan Teknologi: Teknologi kini menjadi kebutuhan. Aisyah Nur Asri, pendiri Mad Quinn Beauty, menekankan pentingnya tools sederhana. “Sebagai usaha kecil, kita harus pintar mencari tools yang mempermudah bisnis. Misalnya sesimpel merapikan medsos, mengatur landing page seperti Linktree supaya mudah diakses calon customer, dan rajin ngonten serta memanfaatkan AI untuk memperkaya ide pemasaran,” ujarnya.

  2. Jangan Lelah Belajar: Pelatihan membuka akses ke mentor dan komunitas. Hal ini dibuktikan oleh Inne Viryani, pendiri Riasafood, yang mencatat pertumbuhan penjualan hingga 130 persen setelah mengikuti program pelatihan.

  3. Perbanyak Relasi: Berjejaring melalui komunitas dan bazar membuka peluang kolaborasi, seperti yang dirasakan Eka Shandy Andi Ishak, pendiri diTUTA asal Sulawesi.

  4. Menciptakan Dampak Berarti: UMKM bisa mendorong pemberdayaan dan sustainability. Hj. Nurlaela, pendiri Cantika Sabbena, menyatakan, “Saat ini, 90 persen karyawan saya perempuan karena saya ingin menciptakan ruang untuk sesama wanita bisa bertumbuh. Dalam pembuatan kain pun, Cantika Sabbena memakai limbah kain.”

  5. Tekun dan Konsisten: Rani Mei Lestari, pendiri DISPROMAN Laundry, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang. Baginya, setiap cucian adalah “cara mencuci stigma, melipat harapan, dan mengangkat martabat.”

Kolaborasi Strategis untuk Masa Depan Inklusif

Director of Communications DANA, Olavina Harahap, menjelaskan bahwa tahun ini program hadir lebih komprehensif. “Kami akan memberikan beberapa kurikulum baru untuk peserta terpilih tahun ini, termasuk salah satunya adalah pembekalan gaya hidup finansial sehat. Tujuannya agar mereka tidak hanya sukses dalam berbisnis, tetapi memastikan usahanya berkelanjutan,” jelasnya.

Langkah ini mendapat apresiasi dari Wakil Menteri PPPA Republik Indonesia, Veronica Tan. “Perempuan Indonesia punya potensi besar sebagai penggerak ekonomi, termasuk melalui UMKM. Kami mengapresiasi komitmen DANA karena sejalan dengan upaya kami dalam memastikan tidak ada perempuan yang tertinggal dalam pembangunan ekonomi nasional,” tuturnya.

Wilson Siahaan dari Ant International menambahkan bahwa dukungan terhadap wirausaha perempuan adalah fondasi menuju masa depan dunia usaha yang lebih inklusif dan dinamis.

Informasi Pendaftaran

SisBerdaya dan DisBerdaya 2026 terbuka bagi pelaku UMKM perempuan yang telah menjalankan usaha minimal enam bulan dengan kategori pendapatan:

  • Ultra Mikro: Rp1–10 juta/bulan.

  • Mikro: Rp11–30 juta/bulan.

Pendaftaran dibuka pada 1–28 April 2026. Program ini akan melalui rangkaian pendampingan selama tiga bulan sebelum mencapai puncaknya pada 30 Juni 2026. Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran, pelaku usaha dapat mengakses kanal resmi DANA.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan