tasi Limbah Baterai, Peneliti BRIN Ciptakan ‘Magic Powder’ untuk Produksi Energi Hidrogen

Peneliti BRIN Indri Badria Adilina kembangkan katalis nanokarbon dari limbah baterai untuk produksi hidrogen hijau. Solusi energi bersih dan ekonomi sirkular.

bogortraffic.com, JAKARTA – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menciptakan terobosan dalam mendukung ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah baterai sebagai bahan baku energi bersih. Melalui pendekatan nanoteknologi, limbah yang berpotensi mencemari lingkungan ini diolah menjadi katalis nanokarbon untuk memproduksi gas hidrogen sebagai bahan bakar alternatif.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Katalisis BRIN, Indri Badria Adilina, menjelaskan bahwa inovasi ini memanfaatkan kandungan karbon dari black mass baterai bekas. Material tersebut dimodifikasi sehingga memiliki konduktivitas listrik tinggi yang efektif dalam proses electrocatalytic water splitting.

Bacaan Lainnya

“Di dalam limbah baterai terdapat material berbasis karbon yang berpotensi sebagai bahan baku katalis. Melalui modifikasi dengan pendekatan nanoteknologi, material ini dapat dikembangkan menjadi material maju berstruktur nano yang efektif untuk berbagai reaksi katalitik,” kata Indri saat diwawancara Humas BRIN, Senin (16/3/2026).

Struktur nano berpori pada katalis ini berperan vital dalam mempercepat produksi green hydrogen. Karakterisasi mendalam dilakukan menggunakan fasilitas canggih seperti sinkrotron sinar-X dan neutron scattering untuk memastikan efektivitas material pada tingkat atomik.

“Carbon black mass atau karbon dari baterai bekas mempunyai uniqueness yang setelah dimodifikasi bisa memiliki konduktivitas yang besar sehingga mampu menghantarkan elektron yang diperlukan untuk proses elektrokatalitik dalam proses water splitting menjadi hidrogen. Dalam proses elektrokatalitik ini, air dipecah menjadi hidrogen dan oksigen menggunakan katalis nanokarbon, sehingga menghasilkan green hydrogen yang digunakan sebagai alternatif biofuel hidrogen,” ungkap Indri.

Katalis ini pun dianalogikan sebagai “magic powder” yang mampu menurunkan energi aktivasi proses kimia secara signifikan.

“Secara penelitian, katalis dapat menurunkan energi aktivasi 2-3 kali lipat dari proses-proses tanpa katalis. Dengan menggunakan katalis nanokarbon ini dapat menurunkan energi aktivasi yang diperlukan dalam proses produksi hidrogen sebagai alternatif energi,” tambah Indri.

Riset ini melibatkan kolaborasi luas, mulai dari Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga mitra internasional seperti ISIS Neutron and Muon Source di Inggris dan Synchrotron Light Research Institute (SLRI) di Thailand.

Indri menekankan bahwa keberhasilan ekonomi sirkular membutuhkan peran aktif sektor industri untuk menciptakan proses kimia yang cost-effective dan berkelanjutan.

“Tentunya industri menginginkan proses-proses kimia katalitik yang cost effective. Hal ini bisa dilakukan dengan menghasilkan katalis yang memiliki umur panjang, lifetime, dan efisiensi yang tinggi. Otomatis ini akan menurunkan production cost sehingga menguntungkan industri juga,” beber Indri.

Ia berharap industri dapat terlibat dalam pengembangan bersama (co-development) untuk menjembatani riset fundamental dengan implementasi nyata di dunia bisnis.

“Saya berharap industri dapat gabung co-development dalam bidang-bidang fundamental ini, karena ini adalah bridging untuk menjadi industri modern yang lebih efektif dan efisien, yang pada akhirnya dapat mewujudkan ekonomi sirkular di Indonesia,” pungkas Indri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan