Ekonomi Solid di Kisaran 5 Persen, Menko Airlangga Respons Peringkat Kredit S&P Global

Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto

bogortraffic.com, JAKARTA— Ketahanan fundamental ekonomi nasional di tengah gejolak pasar keuangan dunia kembali menuai rapor hijau dari lembaga internasional.

Menko Bidang Perekonomian secara resmi memberikan tanggapan strategis di mana Menko Airlangga respons peringkat kredit S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil.

Bacaan Lainnya

​Afirmasi dalam kategori investment grade tersebut dinilai sebagai bentuk pengakuan internasional terhadap kredibilitas kebijakan fiskal hulu-hilir pemerintah.

​”Afirmasi peringkat oleh S&P pada level BBB dengan outlook stabil merupakan bukti nyata atas konsistensi kebijakan ekonomi Pemerintah. Di tengah meningkatnya volatilitas global, Indonesia mampu membuktikan ketangguhannya melalui pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5 persen serta kedisiplinan APBN yang ketat,” ungkap Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya, Selasa (14/7/2026).

​Berdasarkan publikasi resmi Research Update S&P bertajuk “Indonesia Ratings Affirmed At ‘BBB/A-2’; Outlook Stable”, performa fiskal tanah air dinilai sangat sehat dibandingkan dengan negara-negara sejawat (peers). Lembaga pemeringkat dunia tersebut menyoroti kepatuhan lintas pemerintahan dalam menjaga batas defisit anggaran (deficit ceiling) di bawah 3 persen PDB sesuai amanat Undang-undang.

​Rekam jejak kepatuhan inilah yang menjadi jangkar utama penopang kelayakan kredit Indonesia. Dari sisi pertumbuhan riil, S&P memproyeksikan ekonomi domestik akan melaju 5,1 persen pada tahun 2026, dengan rerata 4,9 persen pada periode 2026–2029.

​Indikator pendorong performa kuartal I-2026 yang tumbuh impresif 5,6 persen (yoy) disokong oleh akselerasi belanja Pemerintah serta draf percepatan pencairan anggaran. Dampaknya, PDB per kapita Indonesia diestimasikan menembus angka sekitar US$5.200 pada tahun ini.

​Sektor pendapatan negara juga mencatatkan rapor performa yang agresif sepanjang lima bulan pertama tahun ini, di mana total penerimaan tumbuh 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pemicu Utama: Pemulihan sistem administrasi perpajakan nasional terpadu.

Komponen Pendukung: Lonjakan signifikan pada sektor setoran PPN, royalti komoditas, serta dividen dari hilirisasi sumber daya alam.

​”Arah kebijakan hulu-hilir kita sudah berada di jalur yang benar. Beban utang eksternal neto dan utang pemerintah kita relatif ringan. Ini menjadi sinyal kuat bagi para investor global bahwa ekosistem investasi di Indonesia tetap aman, menjanjikan, dan solid di tengah tekanan geopolitik dunia,” pungkas Airlangga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan