Indonesia Dapat Tarif 0% untuk 1.819 Produk ke AS, Pengamat: Daya Saing Industri Jadi Penentu Utama

Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad

bogortraffic.com, BOGOR – Kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat resmi memberikan tarif 0% untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia.

Kebijakan ini dinilai membuka peluang ekspor yang lebih luas ke pasar Amerika, namun para pengamat ekonomi mengingatkan bahwa manfaat nyata dari kebijakan ini sangat bergantung pada daya saing industri nasional.

Bacaan Lainnya

Dalam diskusi kajian dampak ART yang diselenggarakan Prognosa Research & Consulting, ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, menegaskan bahwa fasilitas tarif 0% bukanlah keistimewaan eksklusif untuk Indonesia.

“Banyak negara juga mendapatkan fasilitas yang sama, seperti Malaysia dan Vietnam. Artinya, akses pasar memang terbuka, tetapi kita tetap harus bersaing dengan negara lain yang memiliki kapasitas industri kuat,” ujar Tauhid Ahmad.

Tantangan Sektor Elektronik dan CPO

Menurut Tauhid, kesuksesan Indonesia memanfaatkan peluang ini akan ditentukan oleh produktivitas, kualitas produk, dan efisiensi biaya. Di sektor elektronik, persaingan dengan negara Asia Tenggara lainnya menjadi tantangan nyata.

“Produk seperti CPO memang kita produksi, tetapi pasar juga memiliki alternatif dari negara lain yang mendapatkan fasilitas tarif serupa,” tambahnya.

Sektor Unggulan yang Berpeluang Tumbuh

Direktur Prognosa Research & Consulting, Garda Maharsi, memetakan sektor-sektor yang memiliki potensi besar memanfaatkan momentum ART, seperti industri nikel, energi, dan petrokimia.

“Sejumlah sektor memang memiliki peluang yang cukup kuat untuk berkembang. Namun agar potensi tersebut terealisasi, perlu dukungan ekosistem industri yang memadai,” jelas Garda Maharsi.

Garda menekankan perlunya dukungan kebijakan strategis seperti kemudahan akses pembiayaan dan logistik yang efisien. Di sisi lain, sektor tekstil, produk logam, dan mineral dinilai masih membutuhkan penguatan kapasitas agar optimal di pasar global.

Kapasitas Industri Sebagai Faktor Kunci

Sofyan Herbowo, Direktur Public Affairs Praxis sekaligus Wakil Ketua Umum Public Affairs Forum Indonesia, menyebut bahwa posisi Indonesia sebagai produsen terbesar dunia untuk CPO memberikan pengaruh kuat dalam pembentukan harga global.

“Indonesia masih menjadi salah satu produsen terbesar dunia untuk CPO sehingga memiliki pengaruh dalam pembentukan harga di pasar global,” ujar Sofyan Herbowo.

Namun, ia mengingatkan bahwa sektor dengan rantai pasok panjang seperti tekstil membutuhkan strategi penyesuaian yang matang sebelum bisa mengoptimalkan peluang ekspor ini.

Tarif 0% Bukan Jaminan Otomatis

Para pengamat sepakat bahwa tarif 0% bukan garis akhir. Analisis ekonomi yang mengacu pada model IPB memperkirakan dalam skenario tertentu, PDB Indonesia bisa terkoreksi sekitar 0,41%, sementara Amerika Serikat justru diproyeksikan tumbuh 6,54%.

“Kita tidak boleh terkecoh dengan angka 1.819 pos tarif. Walaupun tarif ekspor menjadi 0%, belum tentu ekspor kita langsung meningkat jika kapasitas dan daya saing industri belum siap,” tegas Tauhid Ahmad.

Indonesia juga perlu mewaspadai potensi tekanan defisit neraca perdagangan sekitar 5,7 miliar dolar AS, di luar komitmen pembelian komoditas Amerika senilai 38,4 miliar dolar AS yang tercantum dalam kesepakatan ART tersebut.


Metadata SEO & Tags

  • Meta Deskripsi: Indonesia dapat tarif 0% untuk 1.819 produk ekspor ke AS lewat kesepakatan ART. Simak analisis pengamat soal daya saing industri dan potensi defisitnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan