bogortraffic.com, BANDUNG — Wilayah Cekungan Bandung yang kini dipadati permukiman dan infrastruktur modern menyimpan jejak geologi berupa endapan Danau Bandung Purba.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Edi Hidayat, mengungkapkan bahwa karakter material endapan di bawah permukaan Bandung dapat memperkuat efek guncangan jika terjadi gempa bumi.
Danau Bandung Purba terbentuk sekitar 90 ribu hingga 16 ribu tahun lalu akibat letusan Gunung Sunda yang membendung aliran Sungai Citarum purba. Meski airnya telah menyusut, dasarnya meninggalkan endapan lempung, rawa, dan pasir yang belum terpadatkan secara sempurna (terlitifikasi).
Edi mengibaratkan endapan lunak di tengah batuan keras Cekungan Bandung seperti agar-agar di dalam wadah. Karakter tanah seperti ini berpotensi menimbulkan dua ancaman utama saat gempa terjadi:
Amplifikasi Guncangan: Perbedaan antara batuan keras di pinggir cekungan dan material lunak di bagian tengah memicu penguatan gelombang gempa.
Potensi Likuifaksi: Lapisan pasir jenuh air yang menerima tekanan guncangan dapat mendorong air ke permukaan dan memicu penurunan tanah.
”Posisi endapan ini sebenarnya sekarang belum terlitifikasi dan belum terkompaksi dengan baik. Kalau dikasih getaran, ada efek namanya amplifikasi. Amplifikasi ini yang akan berbahaya bagi Kota Bandung kalau ada gempa,” ujar Edi, Kamis (20/8/2026).
Ancaman tersebut kian krusial mengingat Bandung berada sangat dekat dengan sumber gempa darat aktif, seperti Sesar Lembang yang membentang sepanjang 29 km dan berjarak hanya 10 km di utara kota, serta indikasi patahan-patahan bawah permukaan lainnya.
Mengingat tingginya kepadatan penduduk di atas endapan tersebut, BRIN menekankan pentingnya penerapan standar teknis bangunan tahan gempa (building code) serta mitigasi bencana secara menyeluruh untuk meminimalkan risiko di masa depan.





