bogortraffic.com, KABUPATEN BOGOR- Sebanyak 831 warga Kabupaten Bogor tercatat sebagai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV) berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Angka tersebut diperoleh dari hasil screening HIV terhadap 46.381 orang hingga akhir Mei 2025, yang mengungkap 389 kasus baru positif HIV.
Meski mengidap HIV, para ODHIV disebut masih memiliki kesempatan hidup yang panjang dan produktif jika melakukan deteksi dini dan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) secara teratur.
“HIV adalah virusnya yang menyerang kekebalan tubuh, sementara AIDS adalah kondisi di mana virus sudah menyerang seluruh kemampuan daya tahan tubuh. HIV ini bukan akhir dari segalanya, mereka masih dapat produktif dengan deteksi dini dan minum obat teratur,” ujar dr. Fusia Meidiawaty, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dalam dialog bersama RRI Bogor, Rabu (2/7/2025).
Pemerintah Kabupaten Bogor telah membangun sistem pelayanan terpadu untuk ODHIV, salah satunya melalui 101 Puskesmas di 40 kecamatan yang bisa memberikan layanan tes HIV dan obat ARV gratis.
“Bahkan 13 Puskesmas masuk dalam kategori Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) bagi orang dengan HIV,” jelas Adang Mulyana, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
Dengan layanan ini, masyarakat diharapkan dapat melakukan pemeriksaan HIV secara berkala, serta menerima pengobatan untuk menekan risiko berkembangnya HIV menjadi AIDS.
Pendiri Yayasan Lembaga Kajian Sosial Masyarakat (Lekas) Bogor, Muchsin Zaenal Abidin, mengingatkan pentingnya pencegahan HIV melalui pendekatan pada empat populasi kunci, yakni:
- WPS (Wanita Pekerja Seks)
- LSL (Laki-laki Seks Laki-laki)
- Waria (Transgender)
- Pengguna narkoba suntik
“Saat ini pengguna narkoba suntik tidak banyak ditemukan. Jadi penularan tertinggi adalah dari transmisi seksual dan tren ini naik,” jelas Muchsin.
Pihaknya juga mendorong peningkatan edukasi dan kesadaran masyarakat akan bahaya HIV/AIDS, terutama melalui akses layanan kesehatan yang inklusif dan tidak diskriminatif.
Dinas Kesehatan menegaskan, meskipun prevalensi ODHIV di Kabupaten Bogor baru sekitar 0,84% dari populasi, keberadaan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Pemerintah daerah menunjukkan komitmen nyata dalam mengurangi stigma dan memberikan pelayanan kesehatan berkelanjutan.
Sebagai daerah penopang ekonomi pariwisata dengan kontribusi 30% pada Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pemkab Bogor menilai pengendalian HIV/AIDS sebagai bagian penting dalam menjaga daya saing sosial dan kesehatan masyarakat secara luas.





