Studi Sebut Ibu Pengganti Hadapi Risiko Komplikasi Kehamilan yang Lebih Tinggi

Ilustrasi Ibu Hamil. (Foto: Alodok)

bogortraffic.com, RISET- Ibu pengganti atau surogasi menghadapi risiko lebih tinggi terhadap komplikasi selama dan sesudah melahirkan dibandingkan dengan wanita yang hamil secara alami atau melalui bantuan, menurut studi terbaru yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine.

Dilansir dari Medical Daily pada Rabu (25/9/2024), penelitian ini menyelidiki dampak kesehatan dari tiga jenis kehamilan: kehamilan tanpa bantuan, fertilisasi in vitro (IVF), dan pengganti gestasional (ibu pengganti).

Bacaan Lainnya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu pengganti memiliki risiko lebih tinggi mengalami perdarahan pasca melahirkan yang parah, hipertensi, dan preeklamsia dibandingkan dengan wanita yang hamil secara alami atau melalui IVF. Selain itu, ibu pengganti juga lebih berisiko melahirkan prematur.

Namun, peneliti menemukan bukti yang kurang jelas terkait morbiditas neonatal, yaitu kondisi medis yang menyebabkan rawat inap di rumah sakit, masa observasi, atau kematian dalam 28 hari pertama kehidupan bayi.

“Studi ini dipicu oleh meningkatnya penggunaan ibu pengganti di seluruh dunia dan kurangnya informasi tentang dampak kehamilan pengganti terhadap kesehatan ibu dan bayi,” kata Dr. Maria Velez, penulis utama penelitian tersebut, dalam siaran persnya.

Penelitian ini menganalisis data dari 863.017 kelahiran di Ontario, Kanada, antara tahun 2012 dan 2021, yang mencakup kehamilan alami, IVF, dan kehamilan dengan pengganti gestasional. Para peneliti memeriksa berbagai komplikasi kesehatan, termasuk preeklamsia, persalinan caesar, perdarahan setelah melahirkan, dan morbiditas maternal serta neonatal.

Hasil studi menunjukkan bahwa risiko komplikasi maternal parah terjadi pada 2 persen wanita dengan kehamilan tanpa bantuan, 4 persen pada mereka yang melalui IVF, dan 8 persen pada kelompok ibu pengganti.

Risiko morbiditas seperti hipertensi dan perdarahan setelah melahirkan juga lebih tinggi pada ibu pengganti dibandingkan kelompok lainnya.

“Tenaga medis yang menangani pasangan yang memerlukan ibu pengganti untuk membangun keluarga harus memberikan informasi yang jelas tentang potensi risiko yang dapat dialami ibu pengganti selama dan setelah kehamilan,” tambah Velez.

Ia juga menekankan pentingnya mengikuti pedoman ketat untuk memilih ibu pengganti guna meminimalkan risiko komplikasi kehamilan. Namun, Velez mengakui bahwa pedoman ini sering kali tidak diikuti secara ketat.

Studi ini memiliki keterbatasan, termasuk tidak mengeksplorasi motivasi para orang tua dan ibu pengganti dalam memilih surrogasi, atau mempertimbangkan jenis IVF yang digunakan. Faktor-faktor ini diyakini dapat mempengaruhi hasil kesehatan yang terkait dengan kehamilan pengganti.

Temuan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran tentang risiko yang dihadapi ibu pengganti dan mendorong penggunaan panduan medis yang lebih ketat dalam praktik surrogasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan